Berita Politik

DPD PSI Pasuruan Gaungkan Tiga Pilar Kemajuan Daerah di Bawa Kepemimpinan Tri Wicahyo Sudrajat

PASURUAN,SETAJAMPENA.COM
– DPD PSI Pasuruan di bawah kepemimpinan Tri Wicahyo Sudrajat menggaungkan program kerja strategis bertajuk “3 Pilar Utama” sebagai arah gerakan partai dalam mendorong kemajuan daerah. Program tersebut mengusung semangat “Muda, Santun, Bekerja untuk Pasuruan” dengan fokus pada kebutuhan masyarakat dan pemberdayaan potensi lokal.

Tiga pilar yang dirumuskan DPD PSI Pasuruan mencakup ekonomi kreatif dan lapangan kerja, budaya dan religi, serta transparansi dan advokasi publik.

PSI Pasuruan menyebut ketiga fokus tersebut menjadi landasan untuk memperkuat kehadiran partai di tengah masyarakat sekaligus merespons berbagai persoalan yang berkembang di daerah.

Tri Wicahyo Sudrajat selaku Ketua DPD PSI Pasuruan mendorong agar program kerja tidak berhenti pada konsep, tetapi diwujudkan melalui kegiatan yang menyentuh kebutuhan masyarakat secara langsung.

Pilar pertama menitikberatkan pada sektor ekonomi kreatif dan pembukaan lapangan kerja. PSI Pasuruan melihat posisi Pasuruan sebagai kawasan industri dan daerah penyangga memiliki peluang besar untuk meningkatkan penyerapan tenaga kerja lokal, khususnya dari kalangan anak muda.

Sejumlah kegiatan yang dirancang antara lain pelatihan digital marketing secara gratis bagi pelaku UMKM, kompetisi e-sports, serta penyelenggaraan job fair mini. Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan keterampilan, memperluas akses pasar bagi UMKM, dan mempertemukan pencari kerja dengan peluang pekerjaan yang tersedia.

PSI Pasuruan juga menempatkan generasi muda sebagai salah satu kelompok penting dalam pengembangan ekonomi daerah. Pemberdayaan anak muda diharapkan dapat menciptakan lebih banyak peluang usaha sekaligus meningkatkan daya saing sumber daya manusia Pasuruan.

Budaya dan Religi Jadi Pilar Kedua
Pilar kedua mengangkat budaya dan religi dengan pendekatan yang menyesuaikan karakter sosial masyarakat Pasuruan.

PSI Pasuruan berencana memperkuat komunikasi dengan berbagai elemen masyarakat, termasuk pondok pesantren, kiai, tokoh agama, dan tokoh masyarakat.

Langkah tersebut dilakukan melalui kegiatan silaturahmi dan sowan kepada tokoh masyarakat, serta keterlibatan dalam berbagai perayaan hari besar keagamaan dan kegiatan kebudayaan lokal.

PSI Pasuruan juga menyoroti pentingnya membangun kedekatan dengan masyarakat di berbagai wilayah, termasuk kawasan lereng Bromo dan komunitas Tengger. Pendekatan tersebut diharapkan dapat memperkuat komunikasi sekaligus memahami keberagaman sosial dan budaya masyarakat Pasuruan.

Transparansi dan Advokasi Publik
Pilar ketiga berfokus pada transparansi dan advokasi publik.

PSI Pasuruan ingin memperkuat citra sebagai partai yang terbuka serta memberikan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan persoalan yang mereka hadapi.

Salah satu langkah yang direncanakan yakni membuka “Posko Pengaduan Rakyat” di kantor DPD PSI Pasuruan.

Posko tersebut akan menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan pengaduan dan meminta pendampingan terkait berbagai persoalan pelayanan publik.

Pendampingan dapat mencakup warga yang mengalami kesulitan mengakses layanan BPJS maupun pendidikan. Selain itu, PSI Pasuruan berkomitmen menyuarakan pentingnya transparansi dalam pengelolaan anggaran daerah.

Melalui “3 Pilar Utama”, DPD PSI Pasuruan menegaskan arah gerak organisasi untuk lebih aktif membangun komunikasi dan pelayanan kepada masyarakat.

Program tersebut sekaligus menjadi upaya partai untuk menggabungkan pemberdayaan ekonomi, pendekatan sosial budaya, serta advokasi kepentingan publik.

Kepemimpinan Tri Wicahyo Sudrajat menempatkan semangat “Muda, Santun, Bekerja untuk Pasuruan” sebagai identitas gerakan yang ingin dibangun. Implementasi program di lapangan akan menjadi bagian penting dalam mengukur sejauh mana komitmen tersebut dapat memberi manfaat bagi masyarakat.

Dengan tiga pilar tersebut, DPD PSI Pasuruan menargetkan kehadiran partai yang lebih dekat dengan kebutuhan warga. Dampak akhirnya bukan hanya pada aktivitas politik, tetapi juga pada terbukanya akses pemberdayaan ekonomi, penguatan hubungan sosial budaya, dan meningkatnya ruang pengaduan masyarakat untuk memperoleh pelayanan publik yang lebih baik.

Editor. Syafi’i/red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *