Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak. (Foto: CNN/Farid)
SETAJAMPENA.com, Surabaya – Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, mengungkap dugaan awal terkait penyebab terjadinya kebakaran di kawasan Gunung Bromo yang berada dalam lingkup Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Menurut Emil, faktor kelalaian manusia diduga kuat menjadi pemicu awal munculnya api di kawasan tersebut.
Meski demikian, Emil menegaskan bahwa prioritas dan fokus utama pemerintah saat ini masih dicurahkan sepenuhnya pada upaya pemadaman api, bukan pada penelusuran mendalam mengenai penyebab kebakaran.
“Sampai saat ini persisnya itu kami memang masih melakukan fokus kita masih pada pemadaman. Tetapi kita tidak memungkiri bahwa memang ada kemungkinan faktor kelalaian dan faktor manusia di dalamnya yang menjadi awal dari munculnya api tersebut. Namun demikian sekali lagi fokus kita saat ini adalah pada pemadaman,” ujar Emil saat hadir dalam acara Prime News di CNN Indonesia TV pada Senin (10/8) malam.
Emil menuturkan, titik pusat pemadaman sebelumnya sempat terkonsentrasi di kawasan Puncak P-30 yang diidentifikasi sebagai titik awal karhutla dengan luas area terdampak mencapai 520 hektare. Berdasarkan perkembangan terbaru, kawasan Puncak P-30 tersebut kini sudah dapat dinyatakan padam.
Kendati demikian, tantangan baru muncul dengan adanya kemunculan titik api di kawasan Penanjakan, tepatnya di sekitar Lembah Dingklik. Pihak pemerintah belum dapat memastikan secara pasti pemicu munculnya titik api baru tersebut, apakah bersumber dari insiden lain yang melibatkan aktivitas manusia atau akibat material terbakar yang terbawa oleh tiupan angin kencang.
“Kita tidak bisa memastikan apakah memang berasal dari insiden lain yang melibatkan tindakan manusia atau dengan adanya angin bisa membawa apakah itu daun, apakah itu material tertentu yang bisa kemudian ikut terbawa angin dan ternyata bisa menyebarkan api ke titik yang tidak berlokasi langsung bersebelahan gitu tapi terbawa oleh angin,” jelasnya.
Lebih lanjut, Ketua DPD Partai Demokrat Jatim ini menyampaikan bahwa banyaknya variabel pemicu di tengah musim kemarau menuntut tingkat kesiagaan yang tinggi. Berdasarkan hasil rapat koordinasi bersama Menko Polkam, fenomena kebakaran hutan dan lahan dengan beragam faktor pemicu ini tidak hanya melanda kawasan Bromo, tetapi juga terjadi di berbagai wilayah lain di Indonesia.
Sebagai informasi, insiden kebakaran di kawasan Bromo ini pertama kali bermula pada Senin (3/8/2026) sekitar pukul 17.00 WIB. Akibat eskalasi titik api yang terus meluas hingga mencakup area seluas 742 hektare per Senin (10/8), pihak pengelola TNBTS telah menutup sementara seluruh akses wisata Gunung Bromo sejak Sabtu (8/8). Hingga kini, operasi penanggulangan terus digencarkan lewat jalur darat maupun udara dengan mengerahkan tiga unit helikopter, satu unit drone, delapan unit mobil pemadam kebakaran, serta tim gabungan. net
Redaktur: Audi
