SETAJAMPENA.Com, Bima Krisis kekeringan melanda wilayah sekitar 44 desa di 14 kecamatan Kabupaten Bima, serta sembilan kelurahan di Kota Bima, termasuk empat titik terparah di Kecamatan Rasanae Barat (Kota).
Empat titik terparah krisis air bersih akibat kekeringan di Kelurahan Paruga, Kecamatan Rasanae Barat, Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, melanda Lingkungan Sarata RT 16/RW 06, BTN Sarata RT 17/RW 06, BTN Sarata RT 18/RW 07, dan Lingkungan Bara Barat RT 14.
Berdasarkan data penanganan darurat kekeringan, Lingkungan Sarata RT 16 / RW 06: Melanda 85 Kepala Keluarga (325 jiwa).BTN Sarata RT 17 / RW 06: Melanda 159 Kepala Keluarga (298 jiwa).BTN Sarata RT 18 / RW 07: Melanda 88 Kepala Keluarga (334 jiwa).Lingkungan Bara Barat RT 14: Melanda 65 Kepala Keluarga (260 jiwa).Secara keseluruhan, keempat titik terparah di Kelurahan Paruga ini berdampak pada 397 Kepala Keluarga atau sekitar 1.217 jiwa yang mengalami krisis air bersih dan mengandalkan bantuan suplai air dari instansi terkait seperti BBWS Nusa Tenggara I.
Kemudian wilayah terparah terkena krisis air di Kabupaten Bima saat ini juga terjadi di Kecamatan Soromandi dan Kecanatan Donggo, sementara Kecamatan Belo dan Kecamatan Bolo mengalami kekeringan ekstrem akibat lama tidak terjadi turun hujan.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bima, Abdul Muis, S.Sos., mengatakan kondisi tersebut menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Berdasarkan pemantauan BPBD, sejumlah wilayah bahkan mengalami kekeringan cukup parah sehingga membutuhkan pasokan air bersih secara rutin.
“Untuk sementara ini yang paling parah di Kecamatan Soromandi dan Donggo. Kami sudah melakukan penanganan untuk menyuplai air bersih kepada masyarakat yang terdampak,” kata Abdul Muis kepada wartawan, Sabtu (8/8/2026).
Menurutnya, diperkirakan kekeringan masih akan berlangsung hingga bulan September 2026 mendatang. Karena itu, BPBD menetapkan status siaga kekeringan dan kebakaran hutan sebagai langkah antisipasi terhadap dampak musim kemarau saat ini.
Untuk mengatasi kekeringan tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bima, setiap hari mendistribusikan sekitar 6 hingga 7 tangki air bersih, yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di desa dan dusun yang terdampak kekeringan tersebut.
Air bersih yang didistribusikan diambil dari sejumlah sumber yang masih memiliki ketersediaan air, termasuk memanfaatkan jaringan air PDAM di wilayah Bolo dan Woha, serta sumber mata sumur dari masyarakat yang berada di sekitar wilayah terdampak.
BPBD Kabupaten Bima kata Abdul Muis, berupaya agar kebutuhan masyarakat benar-benar terpenuhi, “Yang penting kebutuhan masyarakat terpenuhi. Berapa tangki yang dibutuhkan, itu kami sesuaikan dengan jumlah kebutuhan dan kemampuan masyarakat dalam menampung air,” ujarnya. ( Hiki ).
Redaktur : Audi
