Khataman Al-Qur’an Hari Jadi Kabupaten Pasuruan ke-1097 digelar serentak di 11 masjid Desa Bulusari, Gempol, dalam rangkaian Ruwah Desa.
PASURUAN, SETAJAMPENA.COM
Lantunan khataman Al-Qur’an mewarnai peringatan Hari Jadi Kabupaten Pasuruan ke-1097 sekaligus rangkaian Ruwah Desa Bulusari, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Jumat (18/9/2026) pagi.

Warga Desa Bulusari menggelar khataman secara serentak di 11 masjid yang tersebar di seluruh wilayah desa. Kegiatan tersebut berlangsung sejak sekitar pukul 05.00 WIB hingga selesai. Warga membaca dan mengkhatamkan Al-Qur’an sebagai bentuk rasa syukur sekaligus memanjatkan doa untuk Kabupaten Pasuruan, Desa Bulusari, serta seluruh masyarakat.
Lantunan ayat suci Al-Qur’an dan untaian salawat terdengar di sejumlah kawasan Desa Bulusari. Suasana religius itu juga terasa hingga kawasan Lapangan Bulusari saat upacara peringatan Hari Jadi Kabupaten Pasuruan berlangsung.

Ketua Panitia Ruwah Desa Bulusari, Subkhan, mengatakan panitia sengaja menempatkan khataman Al-Qur’an sebagai salah satu kegiatan utama pada Jumat pagi. Menurutnya, warga memilih kegiatan tersebut sebagai bentuk rasa syukur melalui tradisi keagamaan.
“Kami adakan khataman Al-Qur’an di 11 masjid di seluruh Desa Bulusari. Sengaja kami pilih khataman karena Kabupaten Pasuruan terkenal dengan sebutan Kota Santri,” ujar Subkhan.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Pasuruan ke-1097. Masyarakat mengisi momentum tersebut dengan kegiatan yang melibatkan warga di berbagai lingkungan masjid.

Selain menghadirkan suasana religius, kegiatan khataman juga membawa pesan kebersamaan. Warga dari berbagai wilayah Desa Bulusari mengikuti kegiatan secara serentak sehingga rangkaian doa berlangsung hampir bersamaan di 11 masjid.
Subkhan menjelaskan, masyarakat Bulusari juga mengaitkan rangkaian Ruwah Desa dengan sejarah lokal. Desa Bulusari memiliki Prasasti Cunggrang, salah satu peninggalan sejarah yang berkaitan dengan perjalanan sejarah Kabupaten Pasuruan.
“Kami ingin menampilkan sesuatu yang berbeda karena di desa kami terdapat Prasasti Cunggrang yang menjadi cikal bakal Kabupaten Pasuruan,” jelasnya.
Keberadaan peninggalan sejarah tersebut mendorong masyarakat untuk memadukan unsur sejarah lokal dengan tradisi keagamaan. Melalui Ruwah Desa, warga tidak hanya mengenang sejarah, tetapi juga menjaga tradisi yang berkembang di tengah masyarakat.
Bagi warga Bulusari, khataman Al-Qur’an tidak berhenti pada kegiatan seremonial.
Masyarakat juga menitipkan doa untuk ketenteraman Kabupaten Pasuruan, keselamatan warga, serta kebaikan bagi lingkungan desa.
“Khataman ini bertujuan mendoakan Kabupaten Pasuruan agar senantiasa diberikan ketenteraman dan dilindungi Allah SWT. Kami juga mendoakan para leluhur Desa Bulusari dan seluruh warga,” kata Subkhan.
Rangkaian Ruwah Desa Bulusari masih berlanjut setelah khataman Al-Qur’an. Pada Jumat siang, warga dijadwalkan melakukan ziarah ke makam para leluhur Desa Bulusari.
Panitia kemudian menjadwalkan karnaval pada Sabtu. Sementara pada Minggu siang, masyarakat akan mengikuti pertunjukan kesenian budaya Ujung. Rangkaian kegiatan tersebut kemudian ditutup dengan pagelaran wayang pada Minggu malam.
Rangkaian Ruwah Desa Bulusari mempertemukan sejumlah unsur kehidupan masyarakat. Kegiatan keagamaan, penghormatan terhadap leluhur, sejarah lokal, kesenian, serta kebersamaan warga hadir dalam satu rangkaian peringatan.
Subkhan berharap tradisi tersebut terus mendapat tempat di tengah masyarakat. Menurutnya, Ruwah Desa dapat menjadi ruang untuk mengenang perjalanan sejarah sekaligus memperkuat hubungan sosial antarmasyarakat.
“Semoga dari Bulusari terus lahir doa-doa baik untuk Kabupaten Pasuruan. Kami ingin tradisi seperti ini terus hidup dan menjadi bagian dari cara warga merawat sejarah sekaligus memperkuat kebersamaan,” pungkas Subkhan.
Kegiatan khataman Al-Qur’an di 11 masjid menjadi salah satu penanda bahwa peringatan Hari Jadi Kabupaten Pasuruan ke-1097 di Bulusari berlangsung dengan melibatkan masyarakat secara langsung. Perpaduan doa, sejarah, tradisi, dan budaya tersebut menjadi bagian dari upaya warga menjaga kebersamaan sekaligus meneruskan warisan lokal kepada generasi berikutnya.
Editor:Syafi’i/red
