Berita Warna Warni

Cerita Pelabuhan Cahaya dari Timur Nusantara Bima Sebelum Abad 16 Masehi.

Foto : Ilustrasi Pelabuhan Cahaya dari Timur “Bima” Sebelum Abad ke-16 Masehi. SP/ HIKMAH

SETAJAMPENA. Com, Bima (NTB). 
Pernahkah kalian membayangkan sebuah Pelabuhan kuno yang menjadi pintu gerbang Cahaya di Timur Nusantara, Itulah pelabuhan Bima yang menjadi titik temu strategis para penyimpan kisah hebat tentang perubahan besar Sebelum Cahaya Islam tiba di kota Bima (Mbojo). Sebelum abad ke-16, masyarakat Bima, Nusa Tenggara Barat menghormati roh leluhur “Maka Kamba Maka Kimbi” dan kekuatan alam dalam setiap sendi kehidupan mereka.

Memasuki abad ke-16 Pelabuhan Bima menjadi sangat ramai, kapal-kapal besar dari berbagai daerah di seluruh Nusantara mulai berlabuh membawa komoditas berharga sekaligus membawa pengaruh budaya baru, lihat ada pedagang dari Melayu Arab hingga Gujarat.

Sambil Berniaga mereka menunjukkan akhlak mulia yang membuat masyarakat lokal mulai tertarik mengenal Islam lebih dalam lagi, penyebaran Islam di kota Bima (Mbojo) tak lepas dari peran hebat Kesultanan Gowa Tallo, mereka menjadi pendukung utama yang mengirimkan bantuan dan para pendakwah terbaik untuk Kerajaan Bima pada tahun 1920-an.

Datanglah dua ulama besar damai dan mulai mengajarkan inti ajaran Islam kepada para bangsawan Bima, momen yang paling bersejarah adalah Raja Bima “La Kai” memeluk agama Islam dan berganti nama menjadi Sultan Abdul kahir, ini adalah awal perubahan baru bagi masyarakat Bima atau masyarakat mbojo.

Maka masyarakat Bima memeluk agama Islam, dan secara resmi dideklarasikan sebagai agama kerajaan di seluruh tatanan kehidupan daerah Bima, mulai berlandaskan pada nilai-nilai Alquran dan Sunnah, sistem kerajaan pun bertransformasi menjadi Kesultanan, struktur pemerintahan kini dilengkapi dengan pejabat agama yang memastikan syariat Islam dijalankan dengan adil dan bijaksana.

Secara masif agama Islam masuk ke Bima pada awal abad ke-17 melalui pengaruh Kesultanan Bima dan dakwah dari Sulawesi Selatan.
Tahap Masuknya Islam di Bima, melalui Kontak Awal lewat para Pedagang Muslim dari Jawa dan Demak yang singgah ke Bima sejak abad ke-15 hingga ke-16 setelah jatuhnya Malaka.

Sedangkan Peran Gowa-Tallo pada tahun 1619, Raja Gowa Sultan Alauddin mengirim para mubalig untuk menyebarkan Islam di Bima.
Lewat pengislaman Raja Bima ke-27, “La Kai’, yang memeluk Islam pada 15 Rabiul Awal 1030 Hijriyah (tahun 1620/1640 M) dan berganti nama menjadi Sultan Abdul Kahir, yang menandai berdirinya Kesultanan Bima.

Cerita Roh leluhur bima “Maka Kamba Ma Kimbi”

Dalam kepercayaan asli masyarakat suku Mbojo/Bima (terutama masyarakat Donggo kuno), istilah Ma Kakamba Maka Kimbi (atau Makamba Makimbi) secara harfiah merujuk pada “Roh leluhur” atau “Roh nenek moyang”.

Penjelasan dan konteks budaya terkait istilah tersebut:
1. Konsep Kepercayaan.
Sebelum ajaran Islam menjadi agama mayoritas di Bima, masyarakat lokal menganut sistem kepercayaan animisme-dinamisme lokal yang sering disebut sebagai Keyakinan Makamba Makimbi. Dalam pandangan keyakinan ini, Ma Kakamba Ma Kimbi dipercaya sebagai entitas roh suci yang menjaga, mengawasi, dan memberikan berkah (seperti keturunan atau kesuburan) kepada anak cucunya yang masih hidup.

2. Klasifikasi Roh Leluhur
Masyarakat Donggo membagi roh leluhur dan entitas gaib ke dalam beberapa bagian yang dihormati lewat ritual adat, di antaranya:
Waro: Roh individu dari nenek moyang yang sudah meninggal.
Parafu: Roh penjaga tempat-tempat keramat seperti pohon besar, gunung, atau sumber mata air.
Mbawa: Roh-roh halus lainnya.

3. Jembatan Menuju Dewa.
Dalam struktur kepercayaan kuno Bima, roh nenek moyang (Ma Kakamba Ma Kimbi) bertindak sebagai perantara antara manusia yang masih hidup dengan penguasa alam atau dewa-dewa tertinggi, seperti Dewa Langi (Dewa Langit), Dewa Oi (Dewa Air), dan Dewa Wango (Dewa Angin). Masyarakat kerap memberikan sesajen (Toho Dore) untuk menghormati roh-roh ini agar terhindar dari marabahaya atau wabah penyakit.

Kepercayaan Makamba Makimbi Sebelum Masuknya Agama Islam …
Roh yang ditakuti dan dihormati adalah roh Sangaji dan para Ncuhi. … leluhur masyarakat Bima sebelum masuknya Islam yang rahmatan lil alamin. (Hiki)

Editor : Hikmah/Red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *