PASURUAN, SETAJAMPENA.COM
– Perjuangan masyarakat di wilayah Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, menjadi bagian penting dari sejarah mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia pada periode 1945–1949. Sejumlah desa di kawasan ini berada pada jalur strategis yang menghubungkan Pasuruan dengan Sidoarjo dan menjadi bagian dari dinamika pergerakan pasukan serta perjuangan menghadapi upaya Belanda menguasai kembali Indonesia.
Pasuruan memiliki posisi strategis karena menyimpan perkebunan dan berbagai aset ekonomi yang menjadi kepentingan Belanda. Kondisi tersebut membuat wilayah Pasuruan ikut masuk dalam rangkaian operasi militer Belanda setelah Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Masyarakat tidak hanya menyaksikan konflik bersenjata. Mereka ikut membantu perjuangan dengan menyediakan makanan, menyampaikan informasi, membantu pergerakan pejuang, hingga memberikan tempat perlindungan.
Setelah Agresi Militer Belanda I pada 21 Juli 1947, kawasan Gempol dan perbatasan Pasuruan-Sidoarjo semakin memiliki arti strategis. Jalur Porong-Gempol menghubungkan dua kawasan penting sehingga pergerakan pasukan dari arah Sidoarjo menuju Pasuruan menjadi perhatian dalam strategi pertahanan Republik.
Kawasan Bulusari, Ngerong, Watukosek dan desa-desa di sekitarnya memiliki kondisi geografis yang mendukung pergerakan masyarakat maupun pejuang. Persawahan, sungai, kebun serta jalur menuju kaki Gunung Penanggungan menyediakan medan alternatif untuk perpindahan, komunikasi, evakuasi dan perlindungan.
Dalam sejumlah narasi sejarah lokal, unsur laskar dan TNI menjalankan aktivitas pertahanan di kawasan timur Gunung Penanggungan. Laskar Hizbullah dan Sabilillah juga menjadi bagian dari kekuatan masyarakat yang menggalang dukungan rakyat, terutama dari kalangan santri.
Ketika Agresi Militer Belanda II berlangsung pada 19 Desember 1948, strategi perjuangan Republik semakin mengandalkan perang gerilya. Pasukan tidak hanya menghadapi lawan melalui pertempuran terbuka, tetapi juga memanfaatkan dukungan masyarakat dan kondisi geografis setempat.
Warga membantu menyediakan kebutuhan logistik melalui dapur umum, memberikan informasi mengenai pergerakan pasukan Belanda, menyediakan tempat persembunyian serta menunjukkan jalur yang relatif aman bagi para pejuang.
Peran tersebut memperlihatkan bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan melibatkan masyarakat sipil. Mereka menjaga keberlangsungan perjuangan ketika pasukan Republik menghadapi tekanan militer dan harus berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain.
Perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Pasuruan juga berkaitan dengan aktivitas organisasi dan jaringan sosial-politik. Salah satu dokumen yang menjadi bahan penting dalam penelusuran sejarah tersebut adalah dokumen berjudul “Soerat2 dari Malang” yang disebut pernah jatuh ke tangan intelijen Belanda atau NEFIS.
Dokumen tersebut memuat surat resmi Pengurus Besar Nahdlatoel Oelama (P.B.N.O.) yang mencantumkan alamat kantor di Embong Pengadangan Nomor 3 Pasuruan, yang kini dikenal sebagai Jalan Diponegoro. Surat itu mencantumkan nama KH M. Dachlan sebagai Ketua Tanfidziyah.
Keberadaan kantor PBNO di Pasuruan menunjukkan bahwa kota tersebut juga menjadi bagian dari jaringan organisasi dan aktivitas sosial-politik pada masa revolusi. Berdasarkan narasi yang tersedia, aktivitas kantor tersebut berlangsung setelah Pertempuran Surabaya dan berlanjut hingga Agresi Militer Belanda I sebelum kemudian berpindah ke Madiun setelah Belanda menguasai Pasuruan.
Jejak perjuangan di desa-desa Gempol masih membutuhkan penelitian yang lebih sistematis. Perubahan bentang alam akibat perkembangan permukiman, industri, jalan dan fasilitas publik membuat sejumlah lokasi yang dahulu menjadi jalur pergerakan pejuang kini mengalami perubahan.
Sejarah perjuangan masyarakat Gempol pada 1945–1949 tidak hanya berbicara mengenai pertempuran. Sejarah tersebut juga mencatat keberanian warga mempertahankan kehidupan, menjaga jaringan informasi, menyediakan kebutuhan logistik dan membantu pejuang menghadapi situasi perang.
Karena itu, Jejak tersebut mengingatkan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak hanya lahir dari pertempuran besar yang tercatat dalam buku sejarah, tetapi juga dari perjuangan masyarakat desa yang menjaga keberlangsungan Republik ketika kemerdekaan masih harus dipertahankan dengan pengorbanan. “MERDEKA”.
Editor Syafi’i/red.
