Berita Pemerintahan

Talang Sumber Pandan Jebol, Petani Bulusari Gagal Panen

Talang Sumber Pandan di Bulusari, Gempol, jebol dan membuat aliran irigasi macet. Petani mengeluhkan gagal panen dan menunggu realisasi perbaikan.

PASURUAN, SETAJAMPENA.COM
— Talang Sumber Pandan yang jebol membuat aliran air irigasi menuju lahan pertanian di Desa Bulusari, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, macet total. Kondisi tersebut membuat puluhan petani di kawasan Blebing, Sukci, Kendran, Sumberpandan hingga Dusun Bulu kesulitan mengairi sawah dan terancam terus mengalami gagal panen.

Para petani mengaku kondisi itu sudah berlangsung cukup lama. Kerusakan talang yang mereka sebut dipicu faktor alam membuat pasokan air untuk pertanian terhenti. Petani kemudian melaporkan persoalan tersebut kepada pemerintah desa, kecamatan, hingga dinas terkait.

Kawil Sumberpandan, Bambang, mengatakan petani sudah menyampaikan pengaduan sebanyak tiga kali. Pihak terkait juga telah beberapa kali turun ke lokasi untuk melakukan peninjauan dan survei. Namun, menurut Bambang, survei tersebut belum berlanjut pada pekerjaan fisik yang terlihat di lapangan.

Bambang menyebut petani sudah menunggu kepastian perbaikan talang irigasi tersebut. Ia mempertanyakan tindak lanjut setelah sejumlah pihak melakukan survei.
“Survei-survei tok, wong dinas Kabupaten Pasuruan survei, nggak ana realisasi. Saiki surat dari kontraktor mudun, tapi nggak ana action, entah iku banner, entah iku pekerja sing turun, nggak ono tanda-tanda,” ujar Bambang saat menyampaikan keluhan petani pada awak media Setajampena.com.

Kerusakan talang tersebut berdampak langsung terhadap aktivitas pertanian. Para petani yang sebelumnya dapat menanam dan memanen padi hingga tiga kali dalam setahun kini tidak dapat mengandalkan lahan mereka karena pasokan air tidak berjalan.

Mereka menyebut kondisi tersebut telah berlangsung selama sekitar dua tahun. Akibatnya, petani kehilangan pendapatan dari hasil pertanian yang selama ini menjadi salah satu sumber utama penghasilan keluarga.

Bambang menyampaikan, kerugian yang dialami petani mencapai belasan hingga puluhan juta rupiah untuk setiap petani pada setiap musim tanam yang gagal. Besarnya kerugian bergantung pada luas lahan dan hasil produksi masing-masing petani.
“Tidak hanya gagal panen, petani selama dua tahun ini tidak bisa tanam padi. Pendapatan puluhan juta per petani dari hasil panen tidak ada,” tandasnya.

Kondisi tersebut membuat persoalan kerusakan talang tidak hanya menjadi masalah infrastruktur, tetapi juga berdampak terhadap kondisi ekonomi masyarakat. Jika perbaikan tidak segera terealisasi, petani khawatir lahan pertanian semakin lama tidak produktif.

Para petani kemudian meminta pemerintah daerah memastikan perbaikan talang Sumber Pandan segera berjalan. Mereka berharap pemerintah tidak hanya melakukan survei, tetapi juga memberikan kepastian waktu pengerjaan serta memastikan pekerjaan benar-benar berlangsung di lapangan.

Di tengah keluhan tersebut, terdapat dokumen resmi yang menunjukkan adanya rencana pengerjaan proyek rehabilitasi talang di Desa Bulusari.
CV Almana menerbitkan Surat Pemberitahuan Mulai Kerja (SPMK) kepada Kepala Desa Bulusari, Kecamatan Gempol. Surat tersebut diterbitkan di Pasuruan pada 30 Juli 2026 dan ditandatangani Direktur CV Almana, Bunga Nevisantya.

Surat tersebut merujuk pada Surat Perintah Kerja (SPK) Nomor 00.3.2/007.KPA.013/PAJAK ROKOK/103/2026 tertanggal 24 Juli 2026. Dalam SPK itu, CV Almana mendapat pekerjaan Rehab. Bang/Talang Jl Selang Desa Bulusari Kec. Gempol.

Berdasarkan pemberitahuan tersebut, pekerjaan fisik dijadwalkan mulai Senin, 3 Agustus 2026. Dalam suratnya, CV Almana meminta bimbingan dan petunjuk kepada Kepala Desa Bulusari selama proses pengerjaan.

Perusahaan juga menyampaikan surat tersebut kepada sejumlah pihak terkait, termasuk Kepala Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga dan Bina Konstruksi Kabupaten Pasuruan, PPK, PPTK, serta pengawas konsultan.

Namun, berdasarkan pantauan di lokasi pada Senin, 10 Agustus 2026, belum terlihat aktivitas pekerjaan fisik proyek di lokasi talang yang dikeluhkan petani.
Belum terlihat pula tanda-tanda kegiatan konstruksi seperti pekerja, material, maupun aktivitas pengerjaan yang menunjukkan proyek telah dimulai.

Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan di kalangan petani yang selama ini menunggu perbaikan agar aliran air kembali berfungsi.
Petani berharap pemerintah daerah dan pihak pelaksana segera memberikan penjelasan mengenai tahapan pekerjaan serta memastikan proyek berjalan sesuai jadwal yang telah diberitahukan.

Bagi petani, perbaikan talang bukan sekadar pembangunan infrastruktur. Berfungsinya kembali saluran air menjadi penentu apakah lahan mereka dapat kembali ditanami dan menghasilkan pendapatan.
“Kalau pemerintah nggak ono sakno nang petani, petani iki nggak mau bayar pajak,” keluh Bambang.

Keluhan tersebut menggambarkan besarnya tekanan yang dirasakan petani akibat terhentinya aktivitas pertanian. Karena itu, kepastian perbaikan Talang Sumber Pandan menjadi kebutuhan mendesak agar kerugian petani tidak semakin meluas dan roda ekonomi masyarakat di kawasan tersebut dapat kembali bergerak.
Editor Syafi’i/red.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *