Kerajaan Blambangan menjadi kerajaan Hindu terakhir di Pulau Jawa yang bertahan menghadapi tekanan Demak, Mataram, hingga VOC. Simak sejarah, raja-raja, dan warisannya.
SEJARAH, SETAJAMPENA COM
Kerajaan Blambangan menjadi kerajaan Hindu terakhir yang bertahan di Pulau Jawa setelah runtuhnya Majapahit. Wilayah kekuasaannya membentang di kawasan timur Jawa yang kini meliputi Banyuwangi, Jember, Lumajang, Situbondo, hingga Bondowoso. Posisi geografis yang strategis serta dukungan pelabuhan penting menjadikan kerajaan ini memiliki peran besar dalam jalur perdagangan dan pertahanan di kawasan timur Nusantara.
Nama Blambangan telah tercatat dalam kitab Negarakertagama yang disusun pada 1365 Masehi pada masa Kerajaan Majapahit. Catatan tersebut menunjukkan bahwa kawasan Blambangan telah dikenal sebagai wilayah penting jauh sebelum berdiri sebagai kerajaan yang merdeka.
Berawal dari Warisan Majapahit
Akar sejarah Kerajaan Blambangan tidak dapat dipisahkan dari berdirinya Majapahit. Pada masa pemerintahan Raden Wijaya sekitar 1293–1295, wilayah Lamajang Tigangjuru yang meliputi Blambangan, Sadeng, dan Keta diberikan kepada Arya Wiraraja sebagai bentuk penghargaan atas jasanya membantu mendirikan Majapahit.
Wilayah tersebut kemudian memperoleh status perdikan sima atau daerah yang memiliki otonomi khusus. Pada 1352, pemerintahan setempat dipimpin oleh adipati dari trah Kepakisan yang masih memiliki hubungan dengan Dinasti Rajasa Majapahit. Setelah Majapahit melemah akibat konflik perebutan kekuasaan pada 1478, Blambangan menyatakan berdiri sebagai kerajaan yang mandiri.
Mas Sembar menjadi raja pertama Kerajaan Blambangan pada periode 1478–1489. Ia mendirikan pusat pemerintahan di Semboro, wilayah yang kini masuk Kabupaten Jember. Langkah tersebut menandai lahirnya kerajaan Hindu independen terakhir di Pulau Jawa.
Selama perjalanan sejarahnya, Kerajaan Blambangan beberapa kali memindahkan ibu kota akibat ancaman perang dan perubahan situasi politik. Pusat pemerintahan berpindah dari Semboro ke Lumajang, kemudian Kedawung, Macanputih, Muncar, hingga Lateng di wilayah Rogojampi.
Pergantian kepemimpinan berlangsung melalui sejumlah raja yang memperkuat eksistensi kerajaan. Setelah Mas Sembar, pemerintahan diteruskan oleh Bima Koncar yang memperkuat pertahanan kerajaan. Masa kejayaan awal berlangsung di bawah Menak Pentor antara 1501 hingga 1531.
Pada masa Menak Pentor, wilayah Blambangan meluas dari Lumajang hingga Panarukan dan hampir mencapai kawasan Surabaya. Kerajaan juga membangun hubungan dengan Kerajaan Gelgel di Bali setelah sebelumnya sempat menghadapi serangan dari kerajaan tersebut. Aliansi itu kemudian menjadi kekuatan penting dalam menghadapi ekspansi Kesultanan Demak.
Menghadapi Demak dan Mataram
Penerus Menak Pentor, yaitu Menak Pangseng, menghadapi tekanan besar dari Kesultanan Demak. Salah satu peristiwa penting terjadi pada 1546 ketika Sultan Trenggana gugur di Panarukan saat memimpin ekspedisi militer ke Blambangan. Peristiwa tersebut menjadi salah satu catatan penting dalam sejarah hubungan antara kerajaan Hindu dan kerajaan Islam di Jawa.
Setelah periode Menak Pati dan Menak Lumpat, pemerintahan berlanjut kepada Menak Seruyu atau Tawang Alun I. Pada masa inilah Blambangan sempat berada di bawah pengaruh Kesultanan Mataram ketika Sultan Agung melakukan ekspansi ke wilayah timur Jawa. Meski demikian, perlawanan terhadap dominasi Mataram terus berlangsung.
Masa pemerintahan Tawang Alun II atau Mas Kembar menjadi puncak kejayaan Kerajaan Blambangan. Raja yang dikenal dengan gelar Susuhunan Macanputih itu memindahkan ibu kota ke Macanputih dan menyatakan kemerdekaan setelah wafatnya Sultan Agung. Di bawah kepemimpinannya, Blambangan berkembang menjadi kerajaan yang kuat dengan pengaruh hingga kawasan Bali.
Setelah wafatnya Tawang Alun II pada 1691, Kerajaan Blambangan memasuki masa yang penuh gejolak. Perebutan kekuasaan di lingkungan istana melemahkan stabilitas pemerintahan. Kondisi tersebut dimanfaatkan oleh VOC yang mengklaim Blambangan sebagai wilayah kekuasaannya berdasarkan Perjanjian Ponorogo tahun 1743.
Pada pertengahan abad ke-18, Wong Agung Wilis memimpin perlawanan terhadap VOC. Namun, kekuatan kolonial membagi wilayah Blambangan menjadi dua bagian, yaitu Blambangan Barat yang berpusat di Puger dan Blambangan Timur di Muncar. Kebijakan tersebut semakin memperlemah posisi kerajaan.
Puncak perjuangan rakyat terjadi dalam Perang Puputan Bayu pada 1771–1772. Dipimpin Pangeran Jagapati atau Mas Rempeg, rakyat Blambangan bertempur habis-habisan di kawasan Rawa Bayu, Songgon, Banyuwangi. Jagapati gugur dalam pertempuran tersebut dan menjadi simbol perjuangan mempertahankan kedaulatan kerajaan.
Kerajaan Blambangan secara de jure berakhir pada 1768 dan secara de facto runtuh pada 1777. Setelah itu, wilayahnya dimasukkan ke dalam Karesidenan Besuki di bawah pemerintahan VOC. Mas Alit kemudian diangkat sebagai bupati pertama yang memimpin wilayah tersebut.
Meski kekuasaan politiknya berakhir, warisan Kerajaan Blambangan tetap bertahan hingga sekarang. Budaya Osing, bahasa Osing, berbagai tradisi masyarakat Banyuwangi, serta keberadaan situs-situs sejarah dan pura menjadi bukti kesinambungan peradaban yang pernah berkembang di ujung timur Pulau Jawa.
Sejarah Kerajaan Blambangan menunjukkan bahwa sebuah kerajaan tidak hanya dikenang karena kekuatan militernya, tetapi juga karena kemampuannya menjaga identitas budaya di tengah perubahan zaman. Warisan tersebut masih menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Banyuwangi dan kawasan timur Jawa hingga saat ini.
Editor
Syafii
