Ruwah Desa Bulusari dan Hari Jadi Kabupaten Pasuruan ke-1.097 dimeriahkan siraman replika Prasasti Cunggrang, seni budaya, hingga wayang kulit.

PASURUAN, SETAJAMPENA.COM
— Siraman Prasasti Cunggrang menjadi salah satu rangkaian utama Pentas Seni dalam peringatan Ruwah Desa Bulusari sekaligus Hari Jadi Kabupaten Pasuruan ke-1.097, Minggu (20/9/2026) malam.
Prosesi tersebut mengangkat kembali nilai sejarah Cunggrang melalui pertunjukan budaya yang melibatkan Pemerintah Desa Bulusari dan masyarakat setempat.
Prosesi sakral itu berlangsung selama sekitar 45 menit, mulai pukul 19.46 hingga 20.31 WIB.
Kepala Desa Bulusari, Siti Nurhayati, tampil memerankan sosok permaisuri Mpu Sindok yang dikenal sebagai Sri Parameswari Dyah Kebi. Dalam prosesi tersebut, ia mengenakan busana layaknya seorang ratu dan mengikuti rangkaian ritual siraman replika Prasasti Cunggrang.

Sri Parameswari Dyah Kebi diiringi pejabat tinggi Rakai Bawang Mpu Partha berjalan dari pendopo menuju taman replika Prasasti Cunggrang. Di belakang rombongan, para dayang membawa bunga Sekar. Iring-iringan menempuh jarak sekitar setengah kilometer dengan suasana yang tenang dan penuh wibawa.
Pemandangan semakin terasa simbolis ketika rombongan memasuki kawasan taman prasasti. Lampu minyak kelapa menghiasi tangga taman, sementara para peserta berjalan perlahan menapaki anak tangga batu bata menuju lokasi replika prasasti.

Setibanya di depan prasasti, para dayang menuangkan air suci ke kolam yang mengelilingi objek replika. Selanjutnya, Ratu Dyah Kebi menjalankan ritual siraman atau jamasan sebagai bagian dari prosesi budaya yang dipentaskan dalam rangkaian Ruwah Desa Bulusari.
Setelah ritual selesai, rombongan kembali menuju pendopo Desa Bulusari. Prosesi tersebut tidak hanya menjadi bagian dari pertunjukan malam itu, tetapi juga menjadi media untuk mengenalkan kembali sejarah Cunggrang kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
Merawat Jejak Sejarah Cunggrang
Prasasti Cunggrang memiliki keterkaitan dengan sejarah pemerintahan Mpu Sindok. Dalam narasi sejarah yang diangkat dalam kegiatan tersebut, masyarakat Cunggrang mendapat tugas merawat sejumlah kawasan dan bangunan suci di Gunung Pawitra atau Gunung Penanggungan.
Tugas tersebut mencakup pemeliharaan pertapaan, prasada atau bangunan suci, pathirtan atau tempat pemandian suci, serta kawasan suci Gunung Pawitra. Sebagai bentuk penghargaan atas tugas tersebut, Cunggrang ditetapkan sebagai wilayah sima atau tanah yang memperoleh pembebasan dari kewajiban pajak.
Nilai sejarah itu kemudian diterjemahkan masyarakat Bulusari melalui kegiatan budaya. Tradisi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan sejarah lokal sekaligus menjaga hubungan masyarakat dengan warisan budaya yang berada di wilayahnya.
Rangkaian Ruwah Desa Bulusari
Dalam sambutannya, Kepala Desa Bulusari Siti Nurhayati menyampaikan bahwa peringatan Hari Jadi Kabupaten Pasuruan ke-1.097 sekaligus menjadi momentum peringatan ulang tahun Desa Bulusari.
Rangkaian kegiatan telah dimulai sejak Jumat dengan khataman Al-Qur’an secara serentak di masjid-masjid Desa Bulusari. Warga juga melakukan ziarah ke makam para pendahulu, termasuk kunjungan ke kawasan Prasasti Cunggrang dan makam kepala desa terdahulu.
Pada Sabtu, masyarakat mengikuti Kultur Karnaval Bluru Sari 2026 yang berlangsung hingga sekitar pukul 02.00 WIB. Rangkaian kemudian berlanjut dengan pertunjukan seni Ojung pada siang hari dan pertunjukan wayang pada malam hari sebagai penutup kegiatan.
Penyelenggara juga menyampaikan apresiasi kepada para donatur dan seluruh masyarakat yang mendukung kegiatan. Panitia meminta maaf apabila selama rangkaian acara terdapat hal-hal yang kurang berkenan bagi warga.
Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan dalam kesempatan tersebut menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Desa Bulusari, panitia, lembaga pendidikan, masyarakat, serta berbagai pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan kegiatan.

Menurutnya, rangkaian acara menunjukkan bahwa pembangunan daerah tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik.
Pelestarian budaya, penguatan gotong royong, serta pengenalan sejarah lokal juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan pembangunan daerah.
Salah satu penampilan yang mendapat perhatian adalah Tari Puspitarum dari SDN Bulusari 1. Tarian tersebut merupakan salah satu kesenian khas Kabupaten Pasuruan yang telah memiliki Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) dan biasa digunakan untuk menyambut tamu.
Selain Tari Puspitarum, sejumlah lembaga pendidikan dan kelompok masyarakat juga menampilkan kesenian masing-masing. Penampilan itu meliputi Tari Semut dari Pos PAUD Lely, Tari Nusantara dari RA Nurul Huda dan RA Al Hidayah, serta Gambang Suling dari TK PKK VI.

Setelah prosesi utama, panggung kembali menampilkan Modern Dance SDN Bulusari II, Tari Puspitarum dan Tari Pitik Walik dari SDN Bulusari I, Tari Saman SDIT Insan Kamil, Tari Ciek Dui Tigo dari MIN 2 Pasuruan, serta seni tarik suara dari SDN Bulusari I.
Puncak hiburan malam ditutup dengan pagelaran wayang kulit dengan lakon “Sesaji Rojo Suyo”. Pertunjukan tersebut menghadirkan dalang dari Sidoarjo dan menjadi penutup rangkaian Pentas Seni Ruwah Desa Bulusari.

Peringatan tahun ini sekaligus menjadi momentum evaluasi dan refleksi bagi masyarakat Bulusari. Penyelenggara menyampaikan bahwa tahun berikutnya desa akan memasuki masa jeda kegiatan besar karena persiapan berbagai agenda, termasuk pelaksanaan pemilihan kepala desa pada 2027.
Rangkaian kegiatan Ruwah Desa Bulusari akhirnya tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga mempertemukan sejarah, pendidikan, seni, dan gotong royong masyarakat. Semangat tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga warisan budaya agar tetap dikenal dan diteruskan oleh generasi berikutnya.
Editor: Syafi’i red
