Sejarah Pasuruan sebagai kota pelabuhan kuno menampilkan perjalanan panjang dari era Airlangga, Majapahit, Demak, Mataram, Surapati, hingga pemerintahan kolonial Belanda.
SEJARAH, SETAJAMPENA.COM
Sejarah Pasuruan Kota Pelabuhan Kuno hingga Masa Kolonial Belanda
Pasuruan kota pelabuhan telah memainkan peran penting dalam perjalanan sejarah Jawa Timur sejak masa Kerajaan Airlangga hingga era kolonial Belanda. Sejumlah sumber sejarah, mulai dari Negarakretagama, catatan penjelajah Portugis Tome Pires, babad Jawa, hingga arsip VOC, menunjukkan bahwa Pasuruan berkembang sebagai pusat perdagangan, pemerintahan, sekaligus kawasan strategis yang diperebutkan berbagai kekuatan politik selama berabad-abad.
Dalam kajian sejarah, nama Pasuruan pada masa Airlangga disebut sebagai Paravan, yang disebut memiliki makna serupa dengan Ayodhya. Keberadaan kota ini juga tercatat dalam kakawin Negarakretagama karya Mpu Prapanca ketika Raja Hayam Wuruk melakukan perjalanan ke wilayah timur Pulau Jawa pada abad ke-14.
Tercatat Sejak Masa Majapahit
Dalam Pupuh 35 Negarakretagama, disebutkan bahwa rombongan Raja Hayam Wuruk melewati Paravan sebelum melanjutkan perjalanan menuju Kepanjangan, Andoh Lawang, Kedung Peluk, Hambal, hingga Singasari. Catatan tersebut memperlihatkan bahwa Pasuruan telah menjadi jalur penting dalam sistem transportasi dan pemerintahan Majapahit.
Meski demikian, naskah tersebut tidak menjelaskan siapa penguasa daerah yang memimpin Pasuruan saat itu. Informasi mengenai penguasa Pasuruan baru muncul lebih jelas pada awal abad ke-16 melalui catatan Tome Pires.
Menurut Tome Pires dalam Suma Oriental (1944), Pasuruan dipimpin oleh Menak Supethak, putra Patih Majapahit Mahudara. Tokoh ini dikenal sebagai pendiri ibu kota Pasuruan sekaligus penguasa yang menentang ekspansi Surabaya dan menghambat penyebaran Islam di wilayah timur Pulau Jawa.
Setelah Majapahit runtuh pada 1527 Masehi, Pasuruan menjadi sasaran ekspansi Kesultanan Demak. Berdasarkan Babad Sangkala, kota tersebut jatuh ke tangan pasukan Sultan Trenggana pada 1535 Masehi.
Selanjutnya, wilayah Pasuruan berada di bawah kekuasaan Ki Demang Laksamana atau Aria Pojok, menantu Sultan Trenggana. Kekuasaan kemudian diteruskan oleh keturunannya, termasuk Panembahan Lemah Duwur yang dalam sejumlah sumber disebut memiliki hubungan keluarga dengan Kesultanan Pajang.
Pada masa itu, wilayah Pasuruan tidak hanya meliputi kawasan pesisir, tetapi juga menjangkau pedalaman. Beberapa babad bahkan menyebut Pasuruan pernah menyerang Kediri pada 1579 Masehi dan menjadi salah satu daerah yang menentang ekspansi Mataram di bawah Panembahan Senapati.
Konflik Mataram dan Keterlibatan Bali
Persaingan politik di Jawa Timur semakin memanas ketika Kesultanan Mataram memperluas wilayah kekuasaannya. Pasuruan menjadi salah satu benteng yang cukup kuat menghadapi ekspansi tersebut.
Sumber Kidung Pamancangah yang dikutip C.C. Berg menyebut Kerajaan Gelgel di Bali mengirim sekitar 20.000 pasukan untuk membantu perlawanan terhadap Mataram pada 1635 Masehi. Pasukan itu dipimpin Ki Gusti Wayahan Pamadekan bersama adiknya, Ki Gusti Made Pamadekan.
Dalam pertempuran tersebut, Ki Gusti Wayahan Pamadekan akhirnya ditawan Mataram. Tradisi sejarah kemudian menyebut ia menjadi menantu Sultan Agung dan memiliki keturunan yang kemudian dikenal sebagai Ki Dermayuda. Dari garis keturunan inilah muncul sejumlah pejabat yang memimpin Pasuruan pada masa berikutnya.
Perjalanan sejarah Pasuruan kembali berubah ketika Untung Surapati muncul sebagai kekuatan baru pada akhir abad ke-17.
Arsip VOC bertanggal 24 April 1686 mencatat Surapati membangun basis kekuatan di Pasuruan. Meskipun Sunan Amangkurat II mengirim pasukan untuk mengejar, Surapati berhasil lolos dan akhirnya menguasai Pasuruan setelah Bupati Anggajaya meninggalkan wilayah tersebut.
Surapati kemudian menyatakan diri sebagai penguasa dengan gelar Raden Aria Wiranegara. Arsip VOC berikutnya juga mencatat dukungan dari Adipati Banger (Probolinggo), Jayalelana, serta Bupati Bangil, Wirasuta.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa Pasuruan menjadi pusat perlawanan terhadap pengaruh VOC sekaligus arena tarik-menarik kepentingan antara Mataram dan pemerintah kolonial.
Bangil Menjadi Kabupaten Tersendiri
Selain Pasuruan, wilayah Bangil juga memiliki sejarah panjang. Bukti arkeologi menunjukkan kawasan ini telah dihuni sejak masa prasejarah, ditandai dengan temuan alat batu, menhir, punden berundak, hingga prasasti dari masa Mpu Sindok dan Airlangga.
Nama Kabupaten Bangil mulai banyak muncul dalam laporan harian VOC pada masa pemberontakan Trunojoyo sekitar tahun 1675. Pelabuhan Bangil saat itu dikenal sebagai salah satu pelabuhan beras terbesar di pesisir utara Jawa Timur.
Setelah Surapati berhasil ditaklukkan pada 1707 Masehi, Sunan Pakubuwono I mengangkat Kyai Tumenggung Puspodirjo sebagai Bupati Bangil dan Kyai Tumenggung Puspodirono sebagai Bupati Pasuruan. Kedua tokoh tersebut merupakan putra Bupati Gresik, Kyai Tumenggung Pusponegoro.
Berbagai dokumen silsilah keluarga maupun Regerings Almanak Hindia Belanda menunjukkan bahwa keturunan Puspodirjo kemudian banyak menduduki jabatan penting di Bangil, Gempol, Kepulungan, Kejapanan, hingga pemerintahan kolonial.
Dokumen Regerings Almanak tahun 1934 menunjukkan bahwa Regentschap Bangil masih berdiri sebagai kabupaten tersendiri, terpisah dari Kabupaten Pasuruan.
Pada masa itu, Bangil dipimpin Raden Adipati Ario Harsono sebagai bupati dengan struktur pemerintahan yang mencakup Kawedanan Bangil, Purworedjo, dan Pandakan. Sementara itu, masyarakat Arab di Bangil dipimpin seorang Luitenant der Arabieren, mencerminkan keberagaman sosial yang telah berkembang sejak lama.
Keberadaan Kabupaten Bangil tetap berlangsung bahkan setelah Pemerintah Hindia Belanda menetapkan pembentukan Kabupaten Pasuruan pada 1901 dan Gemeente Pasuruan pada 1918.
Sejarah panjang tersebut menunjukkan bahwa Pasuruan bukan sekadar kota di pesisir utara Jawa Timur, melainkan simpul penting perdagangan, politik, dan kebudayaan yang terus mengalami perubahan mengikuti dinamika kerajaan-kerajaan Nusantara hingga pemerintahan kolonial. Jejak sejarah itu masih menjadi bagian penting dalam memahami perkembangan identitas dan peradaban kawasan Pasuruan serta Bangil hingga saat ini.
Editor
Syafi’i
