Desa Kejapanan di Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, menyimpan jejak sejarah sejak era Majapahit hingga Mataram. Kajian sejarah menempatkan wilayah ini sebagai kawasan strategis di jalur timur Pulau Jawa.
SEJARAH, SETAJAMPENA.COM
Kejapanan Gempol Simpan Jejak Sejarah Majapahit dan Mataram
Kejapanan Gempol menyimpan jejak sejarah panjang yang diduga telah tercatat sejak masa Kerajaan Majapahit hingga Kesultanan Mataram. Desa yang kini menjadi bagian dari Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, itu dinilai memiliki posisi strategis karena berada di jalur penghubung Mojokerto, Sidoarjo, Pasuruan, Malang, hingga kawasan timur Pulau Jawa seperti Probolinggo, Lumajang, Jember, Situbondo, dan Banyuwangi.
Saat ini, Desa Kejapanan bersama 14 desa lainnya membentuk wilayah administratif Kecamatan Gempol, yaitu Bulusari, Carat, Gempol, Jerukpurut, Karangrejo, Kepulungan, Legok, Ngerong, Randupitu, Sumbersuko, Watukosek, Winong, Wonosari, dan Wonosunyo. Posisi geografis tersebut menjadikan Kejapanan tetap berperan sebagai simpul mobilitas masyarakat hingga sekarang.
Dari Sejumlah sumber menyebut nama Japan yang oleh sebagian peneliti dikaitkan dengan wilayah Kejapanan. Salah satu rujukan utamanya ialah Kitab Nagarakretagama yang ditulis Mpu Prapanca pada 1359 Masehi.
Dalam pupuh 17 disebutkan perjalanan Raja Hayam Wuruk menuju Lumajang dengan singgah di sejumlah wilayah. Terjemahan naskah itu menjelaskan bahwa rombongan kerajaan pertama kali singgah di Japan yang saat itu memiliki asrama serta bangunan candi dalam kondisi rusak.
Sementara pada pupuh 58 disebutkan bahwa ketika perjalanan pulang, Raja Hayam Wuruk kembali berhenti di Japan dan disambut barisan pasukan kerajaan.
Sebagian sejarawan berpendapat bahwa Japan yang dimaksud berada di Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.
Namun, terdapat pandangan lain yang menilai Kejapanan di Kecamatan Gempol lebih sesuai karena berada di jalur utama menuju kawasan timur Jawa, sebagaimana rute perjalanan yang digambarkan dalam Nagarakretagama.
Wilayah di sekitar Kejapanan juga memiliki sejumlah nama tempat yang dikenal dalam berbagai kisah sejarah Jawa. Nama seperti Carat, Watukosek, Kepulungan, Kamal Pandak, hingga Kedung Peluk disebut sebagai kawasan yang berkaitan dengan perjalanan Raden Wijaya ketika menghindari kejaran pasukan Prabu Jayakatwang sebelum menuju Madura.
Keberadaan toponim-toponim tersebut menjadi salah satu alasan yang memperkuat dugaan bahwa kawasan Kejapanan telah menjadi jalur penting sejak akhir masa Kerajaan Singhasari hingga berdirinya Majapahit.
Selain itu, keberadaan Desa Watesnegoro di Mojokerto yang berada di sebelah barat Kejapanan juga sering dijadikan bahan kajian oleh sejumlah pemerhati sejarah dalam menelusuri lokasi Japan yang tercatat dalam sumber-sumber kuno.
Kajian yang mengacu pada Babad Tanah Jawi juga menyebut kawasan Japan sebagai lokasi penting dalam konflik antara Kesultanan Mataram dan koalisi kerajaan-kerajaan Jawa Timur.
Dalam catatan tersebut disebutkan bahwa pada masa pemerintahan Panembahan Senopati terjadi pertempuran antara pasukan Mataram melawan gabungan pasukan Surabaya, Pasuruan, dan kerajaan lain di Jawa Timur. Salah satu medan pertempuran disebut berada di dekat Japan sebelum pertempuran berlanjut ke kawasan Warungdowo.
Pada pertempuran berikutnya, pasukan Mataram berhasil mengalahkan gabungan pasukan Jawa Timur. Babad Tanah Jawi menyebut Adipati Japan gugur setelah melakukan perlawanan sengit. Atas penghormatan Panembahan Senopati, tokoh tersebut kemudian dimakamkan di Butuh di dekat makam Raja Pajang.
Peristiwa itu dikaitkan dengan candra sengkala “Resi Guna Pancaning Rat” yang menunjukkan Tahun Jawa 1537 atau sekitar 1615 Masehi.
Meski demikian, sejumlah keterangan dalam Babad Tanah Jawi masih menjadi bahan kajian akademik karena merupakan sumber historiografi tradisional yang memadukan unsur sejarah dan sastra.
Secara geografis, Kejapanan berada di kawasan lereng Gunung Penanggungan atau Gunung Pawitra yang sejak lama dikenal sebagai kawasan suci pada masa Hindu-Buddha.
Di sekitar gunung tersebut berdiri berbagai peninggalan bersejarah seperti Candi Belahan, Petirtaan Jolotundo, Candi Jawi, serta puluhan situs purbakala lainnya.
Di Desa Kejapanan sendiri terdapat makam Buyut Penanggungan yang dihormati masyarakat sebagai tokoh leluhur atau cikal bakal desa.
Kini Kejapanan berkembang menjadi kawasan yang ramai dengan keberadaan balai desa, pasar tradisional, lapangan olahraga, toko swalayan, hingga kantor layanan perbankan. Jalan provinsi yang membelah desa tetap menjadi jalur utama meski telah tersedia akses jalan tol di kawasan Gempol.
Wacana Pengembangan Wilayah
Melihat nilai historis, posisi strategis, dan perkembangan ekonomi kawasan, muncul pandangan agar wilayah Gempol bersama Prigen, Pandaan, Sukorejo, dan Purwodadi dikaji lebih lanjut sebagai calon daerah otonom baru.
Gagasan tersebut dinilai memerlukan penelitian akademik yang komprehensif serta melibatkan pemerintah, sejarawan, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan. Kajian tersebut penting untuk memastikan setiap kebijakan didasarkan pada kebutuhan masyarakat, aspek hukum, kemampuan fiskal, serta manfaat pembangunan jangka panjang.
Warisan sejarah Kejapanan menjadi bukti bahwa sebuah desa tidak hanya menyimpan kisah masa lalu, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai pusat pelestarian budaya, pendidikan sejarah, dan pengembangan ekonomi berbasis warisan budaya. Dengan penelitian yang terus berkembang, identitas Kejapanan diharapkan semakin kuat sekaligus memperkaya khazanah sejarah Kabupaten Pasuruan dan Jawa Timur.
Editor: Syafi’i/red
