Berita Pendidikan & Budaya

Bupati Terakhir Bangil RAA Harsono Tinggalkan Warisan Bersejarah Kabupaten

R.A.A. Harsono menjadi bupati terakhir Kabupaten Bangil sebelum wilayah itu digabung dengan Kabupaten Pasuruan pada 1935. Simak kiprah dan warisan sejarahnya.
BANGIL, SETAJAMPENA.COM

Bupati Terakhir Bangil menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah pemerintahan di Jawa Timur. Sosok Raden Adipati Ario (R.A.A.) Harsono tercatat sebagai pemimpin terakhir Kabupaten Bangil sebelum pemerintah kolonial Belanda menghapus status kabupaten tersebut dan menggabungkannya ke Kabupaten Pasuruan pada 1 Januari 1935.
Kabupaten Bangil merupakan salah satu kabupaten tua di wilayah Karesidenan Pasuruan bersama Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Malang. Berdasarkan catatan H.J. Domis pada 1830, wilayah Bangil terdiri atas tiga distrik, yakni Bangil, Gempol, dan Pandaan. Memasuki 1920, wilayah administratifnya berkembang menjadi empat distrik setelah Distrik Poerworedjo (Purwosari) dibentuk hingga mencakup kawasan Lawang.

Sejak masa awal berdirinya, Bangil dipimpin sejumlah bupati dari berbagai latar belakang, mulai dari tokoh asal Bali, Mataram, Gresik, Madura, hingga Pasuruan. Dalam Almanak Pemerintah Hindia Belanda (Regerings-almanak voor Nederlandsch-Indië), nama-nama bupati modern Bangil tercatat berurutan mulai Raden Adipati Ario Soerio Adhi Ningrat (1854), Raden Tumenggung Noto Adiningrat (1872), Raden Tumenggung Soendjoto Ningrat (1888), Raden Tumenggung Kromodjojodiningrat (1902), hingga R.A.A. Harsono yang mulai menjabat pada 20 Mei 1915.

Perjalanan Karier Hingga Menjadi Bupati
R.A.A. Harsono lahir di Kepanjen Lor, Blitar, pada 29 November 1870. Ia menempuh pendidikan di Hoofdenschool (OSVIA) Probolinggo sebelum memulai karier sebagai juru tulis jaksa di Jember pada 29 November 1889.

Kariernya terus berkembang. Ia pernah bertugas sebagai mantri Departemen Candu di Jember, kemudian menjadi adjunkt jaksa dan adjunkt kepala jaksa di Bondowoso. Pada Oktober 1901, pemerintah mengangkatnya sebagai Wedono Sukowono sebelum dipindahkan menjadi Wedono Wonosari, Bondowoso. Selama sembilan tahun memimpin wilayah tersebut, Harsono menunjukkan kemampuan administrasi yang baik hingga akhirnya dipromosikan menjadi Patih Jember pada September 1911.

Empat tahun kemudian, tepat pada Mei 1915, Harsono resmi dilantik sebagai Bupati Bangil. Masa kepemimpinannya berlangsung selama dua dekade dan menjadi periode terakhir eksistensi Kabupaten Bangil sebagai daerah otonom pada masa Hindia Belanda.
Mendapat Berbagai Penghargaan
Selama menjabat, pemerintah kolonial memberikan sejumlah penghargaan kepada Harsono. Ia memperoleh gelar “Ario” pada 1920 dan gelar “Adipati” pada 1923. Pada November 1924, ia menerima Songsong Kuning sebagai bentuk penghormatan atas pengabdiannya.

Penghargaan lain juga terus mengalir, di antaranya Bintang Emas Besar Kesetiaan dan Jasa pada Agustus 1928 serta pengangkatan sebagai Perwira Ordo Oranje-Nassau pada Desember 1934. Pemerintah Hindia Belanda juga menyampaikan apresiasi atas keberhasilannya membantu penanggulangan wabah pneumonia pada 1920 dan keterlibatannya dalam panitia perubahan dasar konstitusi Hindia Belanda.

Di luar pemerintahan, Harsono juga dikenal memiliki hubungan dengan lingkungan Keraton Yogyakarta melalui istrinya, Bendoro Raden Ajoe Harsono, putri Kanjeng Ratu Madoeretno yang merupakan kakak tertua Sri Sultan Hamengkubuwono VIII.

Salah satu warisan penting R.A.A. Harsono ialah pendirian paguyuban peternak “Mardi Rodjokojo”. Organisasi tersebut bertujuan meningkatkan kualitas peternakan masyarakat melalui pengadaan sapi unggul dari British India dan Bali, serta kambing dan domba dari berbagai daerah di Pulau Jawa.
Setiap tahun, paguyuban itu menyelenggarakan pameran ternak dan karapan sapi di Alun-alun Bangil.

Kegiatan tersebut menarik pedagang serta pembeli dari berbagai wilayah sehingga memberi dampak positif terhadap perekonomian masyarakat.
Di bidang kesehatan, Harsono memimpin Paguyuban “Panti Hoesodo” yang membangun rumah sakit di Lawang di atas lahan sekitar 6.000 meter persegi. Rumah sakit dengan biaya pembangunan sekitar 29.500 gulden dan perlengkapan senilai 4.350 gulden itu diresmikan pada 28 Agustus 1930. Fasilitas tersebut kemudian berkembang menjadi cikal bakal RSUD Lawang yang masih melayani masyarakat hingga sekarang.

Krisis Ekonomi Akhiri Kabupaten Bangil
Memasuki dekade 1930-an, krisis ekonomi dunia berdampak besar terhadap Bangil. Enam pabrik gula utama di wilayah tersebut, yaitu Wonoredjo, Soemberredjo, Ardjosari, Pandaan, Soekoredjo, dan Alkmaar, menghentikan operasionalnya.

Penutupan industri gula menyebabkan meningkatnya pengangguran, menurunkan pendapatan daerah, serta memicu perpindahan penduduk Eropa dan tutupnya banyak toko milik warga Tionghoa.

Situasi tersebut membuat Bangil dijuluki sebagai “kota mati”. Paguyuban Mardi Rodjokojo kehilangan dukungan pembiayaan, sementara banyak peternak terpaksa menjual bahkan menyembelih ternaknya akibat kesulitan ekonomi.

Pemerintah kolonial akhirnya menghapus Kabupaten Bangil dan menggabungkan sebagian besar wilayahnya ke Kabupaten Pasuruan. Sementara Distrik Lawang dimasukkan ke Kabupaten Malang. Harsono kemudian dipercaya memimpin Kabupaten Pasuruan hasil penggabungan tersebut mulai 1 Januari 1935 dan dilantik secara resmi pada 20 Maret 1935 oleh Gubernur Jawa Timur J.H.B. Kuneman.

R.A.A. Harsono wafat pada 24 September 1936 dalam usia 66 tahun. Prosesi pemakamannya di Bangil dihadiri Gubernur Jawa Timur, para residen, bupati dari berbagai kabupaten di Jawa Timur, pejabat pemerintahan, kalangan swasta, tokoh masyarakat, serta ribuan warga yang memberikan penghormatan terakhir.

Hingga kini, makam R.A.A. Harsono di Kenep, Bangil, masih menjadi pengingat akan peran seorang pemimpin yang menutup babak sejarah Kabupaten Bangil sekaligus membuka era baru administrasi Kabupaten Pasuruan. Warisan kepemimpinannya di bidang pemerintahan, peternakan, dan pelayanan kesehatan tetap menjadi bagian penting dalam sejarah perkembangan wilayah Pasuruan dan sekitarnya.

Editor

Syafii

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *