Berita Warna Warni

Kebakaran Hutan dan Lahan di Kaldera Bromo TNBTS Meluas hingga 120 Hektare, Petugas Kerahkan Helikopter Water Bombing

(Foto: Istimewa)

SETAJAMPENA.com, Malang – Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Kaldera Bromo di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) terpantau kian meluas hingga mencakup area sekitar 120 hektare setelah memasuki hari kelima kejadian. Guna menjinakkan api di medan yang ekstrem, petugas gabungan kini mengandalkan operasi pemboman air melalui udara menggunakan helikopter.

Kepala Balai Besar TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha, mengonfirmasi bahwa armada helikopter untuk operasi water bombing telah disiagakan di Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang. Operasi udara ini dijadwalkan mulai bergerak untuk memadamkan titik-titik api yang sulit dijangkau oleh tim darat.

“Masih ada beberapa titik api yang belum padam. Heli water bombing sudah persiapan di Bandara Malang,” ungkap Rudijanta saat dikonfirmasi pada Jumat pagi (7/8/2026).

Rudijanta menjelaskan bahwa meskipun titik api pada Jumat pagi ini terpantau relatif mengecil dibandingkan hari-hari sebelumnya, vegetasi khas seperti cemara gunung, akasia, serta semak belukar di lereng curam masih terus terbakar dan berisiko meluas jika tidak segera ditangani secara intensif.
“Pagi ini, api tidak begitu besar. Tetapi harus segera ditangani agar tidak meluas,” tegasnya.

Terkait luas dampak kerusakan, ia membeberkan bahwa amukan si jago merah telah menghanguskan lahan seluas kurang lebih 120 hektare. Faktor utama yang menjadi kendala berat di lapangan adalah kondisi topografi medan yang sangat ekstrem berupa tebing-tebing terjal, sehingga mustahil bagi personel darat untuk melakukan penyisiran secara manual.

“Kalau di lereng dan tebing-tebing kan harus nunggu heli memang, karena tidak akan terjangkau oleh orang. Helikopter ini bukan sekadar untuk mempercepat, tetapi juga memastikan titik api di tebing-tebing itu benar-benar mati. Kalau tidak pakai alat itu, tidak mungkin terjangkau manusia,” jelasnya.

Sembari mempersiapkan operasi udara, ratusan personel darat dikerahkan untuk bersiaga di bawah guna melakukan penyekatan agar pergerakan api tidak merembet ke area sabana bagian bawah.

Pemantauan ketat difokuskan pada pergerakan api yang sebelumnya bergeser dari blok Bantengan serta Watu Gede menuju ke arah Jandur di bawah kawasan Jemplang.

“Petugas gabungan terus bersiaga di bawah, untuk mencegah api semakin meluas. Sambil menunggu heli untuk membantu pemadaman,” pungkas Rudijanta. net

Redaktur: Audi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *