(Foto: Ilustrasi kekeringan)
SETAJAMPENA.com, Mataram – Musim kemarau yang melanda wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) menunjukkan eskalasi yang semakin mengkhawatirkan. Berdasarkan data pemantauan iklim yang dirilis oleh BMKG Stasiun Klimatologi NTB, sejumlah wilayah bahkan telah melewati fase Hari Tanpa Hujan (HTH) dalam durasi yang sangat panjang.
Berdasarkan laporan Informasi Iklim Dasarian I Agustus 2026, rekor HTH terpanjang tercatat di Pos Hujan Belo dan Pos Hujan Bolo, Kabupaten Bima, yang mencapai 84 hari berturut-turut. Durasi tersebut sekaligus menempatkan wilayah itu dalam kategori kekeringan ekstrem.
Forecaster on Duty BMKG NTB, Suci Agustiarini, mengungkapkan bahwa curah hujan di sebagian besar wilayah NTB pada periode tersebut berada pada tingkat yang sangat rendah, yakni berkisar antara 0 hingga 10 milimeter per dasarian.
“Kondisi tersebut menjadi salah satu indikator semakin kuatnya dampak musim kemarau di NTB,” ujar Suci, Rabu (12/8/2026).
Lebih lanjut, BMKG menjelaskan bahwa fenomena iklim global turut memperparah situasi kering ini. Anomali suhu muka laut di wilayah Nino3.4 menunjukkan bahwa fenomena El Nino saat ini berada dalam kategori sangat kuat dengan indeks mencapai +2,45. Kondisi tersebut diprakirakan akan terus memperpanjang cuaca kering di berbagai wilayah Indonesia, termasuk NTB.
Memasuki dasarian II Agustus (11–20 Agustus 2026), peluang turunnya hujan di seluruh wilayah NTB diprediksi sangat kecil, yakni di bawah 10 persen. Menyikapi ancaman ini, BMKG telah mengeluarkan status peringatan dini kekeringan meteorologis dengan level mulai dari Waspada, Siaga, hingga Awas di berbagai kabupaten/kota di NTB. Sejumlah kecamatan di Bima dan Dompu bahkan masuk dalam zona merah atau level Awas.
Dampak dari kemarau panjang ini mulai dirasakan secara nyata oleh masyarakat. Catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bima menunjukkan bahwa sekitar 40 desa yang tersebar di 13 kecamatan kini masuk dalam peta rawan kekeringan, dengan estimasi 8.665 kepala keluarga atau 27.343 jiwa terancam mengalami krisis air bersih.
Menanggapi situasi darurat tersebut, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kabupaten Bima, Agus Salim, menyatakan bahwa pihaknya telah mengambil sejumlah langkah strategis, termasuk memperkuat koordinasi lintas instansi guna memastikan kebutuhan dasar warga tetap tersuplai dengan baik. Pemerintah daerah juga mengimbau masyarakat agar memperketat penggunaan air bersih serta mewaspadai ancaman kebakaran hutan dan lahan.
“Kami meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau. Warga diimbau menggunakan air secara hemat dan menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran,” imbau Agus.
Selain itu, para petani diimbau untuk cermat mengatur jadwal tanam serta beralih menggunakan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap cuaca kering demi meminimalisir risiko gagal panen. net
Redaktur: Audi
