Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan. (Foto: Istimewa)
SETAJAMPENA.com, Jakarta — Krisis kualitas udara di Indonesia kini berada dalam taraf yang semakin mengkhawatirkan dan mematikan. Lonjakan kasus ini dipicu secara signifikan oleh eskalasi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda berbagai wilayah di tanah air sepanjang periode paruh kedua tahun ini.
Berdasarkan laporan terbaru yang dirilis oleh lembaga riset Center for Research on Energy and Clean Air (CREA), jumlah kematian akibat polusi udara yang berkaitan langsung dengan kebakaran hutan dan lahan telah menembus angka 3.650 jiwa terhitung hingga bulan September 2026.
Angka kematian akibat karhutla tersebut tercatat melonjak tajam hingga dua kali lipat jika dibandingkan dengan estimasi yang tercatat pada bulan Agustus 2026. Situasi ini menunjukkan eskalasi dampak lingkungan yang bergerak sangat cepat dalam rentang waktu yang relatif singkat.
Selain ancaman dari asap karhutla, polusi udara kronis yang bersumber dari emisi perkotaan serta aktivitas sektor industri turut menyumbang angka kematian yang tidak kalah besar, yakni mencapai 1.750 jiwa di berbagai kawasan padat aktivitas.
Kombinasi dari kedua faktor utama tersebut membuat total angka kematian akibat polusi udara secara nasional mengalami lonjakan drastis sebesar 42 persen. Dengan kenaikan ini, akumulasi korban jiwa secara nasional menyentuh angka 5.310 orang pada September 2026.
Riset komprehensif dari CREA yang diberi judul “Indonesia’s air pollution deaths surged by 42% in September as government resists declaring karhutla a national emergency” menyoroti bahwa krisis ini menuntut perhatian luar biasa dari pemangku kebijakan di tingkat pusat maupun daerah.
Dalam laporan tersebut diungkapkan bahwa empat provinsi di Pulau Kalimantan, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur, mencatatkan risiko kematian tertinggi akibat paparan pekatnya asap karhutla.
Secara kumulatif, total korban jiwa yang tercatat akibat polusi udara di keempat provinsi di Kalimantan tersebut telah meningkat hingga mencapai angka 1.470 jiwa, menjadikannya salah satu episentrum dampak terparah tahun ini.
Sementara itu, wilayah Pulau Sumatra yang mencakup lima provinsi yaitu Jambi, Sumatra Selatan, Riau, Lampung, dan Sumatra Barat, secara kolektif mencatat angka kematian akibat masalah serupa sebanyak 1.420 jiwa.
Kondisi cuaca yang semakin kering akibat puncak fenomena iklim El Nino pada September turut memperparah bencana kebakaran hutan dan lahan, membuat upaya pemadaman dan pengendalian di lapangan menjadi jauh lebih berat.
Berbeda dengan wilayah luar Jawa yang didominasi asap karhutla, di Pulau Jawa angka kematian cenderung disebabkan oleh polusi kronis dari kegiatan industri, emisi kendaraan bermotor, serta maraknya pembakaran sampah, dengan jumlah korban mencapai 1.530 jiwa per September 2026.
Menanggapi situasi darurat ini, Analis CREA, Katherine Hasan, memberikan penegasan dalam keterangan tertulis yang dirilis pada Kamis (29/10). “Angka-angka ini memperlihatkan bahwa sumber polusi udara selain karhutla sama berbahayanya dengan asap dari pembakaran hutan dan lahan gambut,” ujar Katherine.
Ia juga menambahkan bahwa di Pulau Jawa, polusi udara non-karhutla tetap menjadi faktor utama penyebab kematian, khususnya pada wilayah perkotaan yang memiliki tingkat kepadatan penduduk sangat tinggi serta aktivitas ekonomi yang masif.
Namun di sisi lain, meluasnya kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan, Sumatra, Sulawesi, hingga Papua telah menggeser pemicu utama kematian terkait polusi udara dari polusi urban menuju ancaman langsung dari asap karhutla yang beracun.
Dampak kesehatan secara masif ini membuat sekitar 14 juta jiwa atau hampir 80 persen dari total penduduk di Kalimantan terpapar kualitas udara yang buruk sepanjang September, meningkat signifikan dari 12,3 juta jiwa pada bulan sebelumnya. Di Sumatra, sekitar 31,4 juta jiwa atau separuh populasi menghirup udara tidak sehat, sementara di Jawa jumlahnya mencapai 23,8 juta orang, menjadikan total penduduk terdampak secara nasional mencapai 57,8 juta jiwa. net, aud
Editor: Audi/red
