Pasuruan, setajampena.com
— Mbah Sekeng disebut sebagai tokoh yang membuka atau membabat hutan pertama kali di wilayah yang kini menjadi Dusun Karangploso, Desa Ngerong, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan. Kisah tersebut disampaikan langsung oleh Kepala Desa Ngerong, Jemik Sadiman, pada Jumat (17/7/2026), sebagai bagian dari cerita turun-temurun yang masih dipercaya masyarakat setempat.
Menurut Jemik Sadiman, tidak banyak catatan sejarah tertulis mengenai sosok Mbah Sekeng. Namun, cerita yang diwariskan para sesepuh menyebutkan bahwa Mbah Sekeng bersama para pengikutnya mulai membuka kawasan hutan yang saat itu masih lebat hingga menjadi lahan terbuka yang kemudian berkembang menjadi permukiman dan area pertanian.

Jemik menjelaskan, asal usul nama Karangploso diawali dengan pembukaan hutan dilakukan secara bertahap. Pada tahap pertama, Mbah Sekeng menebang pohon di separuh kawasan hutan hingga pohon-pohon bertumbangan memenuhi area tersebut. Warga kemudian menyebut kawasan itu sebagai Karang Kletak, yang berasal dari istilah “karangan ngeletak”, menggambarkan banyaknya batang pohon yang roboh.
Setelah itu, Mbah Sekeng melanjutkan pembukaan hutan di bagian lainnya. Kawasan berikutnya dikenal dengan nama Karang Asem. Kedua wilayah tersebut akhirnya berkembang menjadi satu kawasan yang dikenal sebagai Karangploso.
“Mbah Sekeng itu tapak tilasnya mbabat alas di separuh desa dinamakan Karang Kletak, kemudian dilanjutkan ke separuh kampung lagi yang dinamakan Karang Asem,” tutur Jemik Sadiman.
Jemik menambahkan, setiap selesai menebang pohon, Mbah Sekeng selalu beristirahat di bawah pohon ploso yang tumbuh besar di kawasan tersebut. Kebiasaan itu kemudian menjadi asal-usul nama Karangploso sebagai bentuk penghormatan masyarakat kepada tokoh pembabat alas tersebut.
“Karena Mbah Sekeng selalu pulang dan beristirahat di bawah pohon ploso, akhirnya kawasan itu dinamakan Karangploso,” jelasnya.
Makam Mbah Sekeng Masih Dirawat
Seiring berjalannya waktu, kawasan Karangploso berkembang menjadi perkampungan dan lahan pertanian. Masyarakat meyakini perkembangan tersebut tidak lepas dari jasa Mbah Sekeng sebagai tokoh pembuka wilayah. Sebagai bentuk penghormatan, ketika Mbah Sekeng wafat, warga memakamkannya di kawasan yang kini berada di tengah permukiman. Hingga sekarang makam tersebut masih menjadi tempat yang dihormati masyarakat untuk berziarah dan mengirim doa.

Dari pantauan di lokasi, kompleks makam berada tidak jauh dari kediaman Kepala Desa Ngerong. Di pintu masuk berdiri sebuah gapura bertuliskan “Mbah Sekeng”. Dari gapura tersebut, pengunjung berjalan sekitar 10 meter menuju bangunan pendopo yang menaungi kompleks pemakaman.
Hal yang menarik perhatian ialah bentuk nisan di kompleks makam tersebut. Puluhan nisan menggunakan batu andesit pipih. Nisan Mbah Sekeng dan istrinya memiliki ukuran lebih besar dibandingkan nisan lainnya dengan bentuk menyerupai mahkota.
Keberadaan batu-batu nisan itu menjadi bagian dari peninggalan yang masih dijaga masyarakat. Namun, belum ada penelitian arkeologis yang memastikan usia maupun periode sejarah kompleks makam tersebut.
Tradisi Barikan Pernah Terhenti
Jemik Sadiman juga mengenang masa kecilnya ketika kompleks makam Mbah Sekeng masih menjadi pusat pelaksanaan tradisi barikan atau sedekah dusun. Selain di makam Mbah Sekeng, kegiatan serupa juga dilakukan di punden pohon ploso yang saat ini berada di area sebuah pabrik.
“Dulu waktu saya masih kecil, warga melakukan barikan di makam Mbah Sekeng dan juga di punden pohon ploso yang sekarang masuk area pabrik,” ujarnya.
Menurut Jemik, tradisi tersebut sempat berhenti setelah peristiwa politik nasional tahun 1965. Saat itu masyarakat memilih menghentikan berbagai kegiatan adat di sejumlah punden karena muncul rasa takut dan adanya anggapan negatif terhadap aktivitas tersebut.
Akibat tradisi yang terhenti, sejumlah situs budaya di wilayah Desa Ngerong menjadi kurang terawat. Jemik mencontohkan Punden Kecicang yang kemudian ditumbuhi pohon randu berukuran besar hingga menutupi area yang dipercaya sebagai lokasi makam Mbah Suryo Rejo. Di kawasan itu juga terdapat peninggalan lain seperti Watudakon dan Gempol Watu.
Dilestarikan Sejak Tahun 2007
Ketika mulai menjabat sebagai Kepala Desa Ngerong pada tahun 2007, Jemik Sadiman berinisiatif membangun pendopo di atas kompleks makam Mbah Sekeng agar situs tersebut lebih terawat dan terlindungi.
Ia berharap keberadaan makam dan cerita mengenai Mbah Sekeng tetap menjadi bagian dari identitas sejarah Desa Ngerong sekaligus menjadi pengingat bagi generasi muda mengenai asal-usul terbentuknya Dusun Karangploso.
Pelestarian situs budaya lokal dinilai memiliki nilai penting, tidak hanya sebagai penghormatan terhadap leluhur, tetapi juga sebagai upaya menjaga sejarah dan warisan budaya desa agar tetap dikenal masyarakat di masa mendatang.(Syafi’i/red)
