Kecelakaan truk tronton di Jalur Surabaya–Malang, Gempol, Pasuruan, menewaskan empat orang, melukai enam korban, serta menghancurkan tujuh rumah warga di Desa Ngerong dan Desa Karangrejo.
PASURUAN, SETAJAMPENA COM
Kecelakaan Truk Tronton Gempol Hancurkan Tujuh Rumah Warga
Kecelakaan truk tronton di Jalur Surabaya–Malang, tepatnya di Kilometer 38 kawasan Restoran Mojorejo, Dusun Mojorejo, Desa Ngerong, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, mengakibatkan kerusakan besar pada permukiman warga.
Selain menewaskan empat orang dan melukai enam lainnya, insiden yang terjadi pada Senin (27/7/2026) pagi itu juga menghancurkan tujuh rumah warga di dua desa.
Peristiwa yang berlangsung sekitar pukul 05.45 hingga 05.52 WIB tersebut melibatkan sebuah truk tronton, mobil pikap colt diesel, mobil tangki air, serta beberapa sepeda motor. Benturan keras membuat kendaraan menghantam bangunan di sepanjang jalur hingga menyebabkan kerusakan parah pada rumah warga.
Empat rumah yang berada di Dusun Ngetal, Desa Karangrejo, dilaporkan mengalami kerusakan berat. Rumah-rumah tersebut merupakan milik Ahmad, Jadi, Dian, dan Nur Yasin. Seluruh bangunan terdampak akibat kendaraan yang tidak terkendali setelah kecelakaan beruntun terjadi.
Sementara itu, di Dusun Mojorejo, Desa Ngerong, tiga bangunan lain juga mengalami kerusakan. Bangunan yang terdampak terdiri atas rumah milik Satuwi, warung bebek milik Hadi, serta bengkel milik Ngatimen. Kerusakan pada bangunan menyebabkan aktivitas ekonomi warga setempat ikut terganggu.
Selain kerusakan bangunan, dua warga Dusun Mojorejo, yakni Sutikno dan Lilik, yang saat itu hendak berangkat ke pasar, turut menjadi korban luka-luka akibat insiden tersebut. Keduanya mendapat penanganan bersama korban lainnya setelah kejadian.
Kepala Desa Ngerong, Jemik Sadiman, menyampaikan harapannya agar warga yang rumahnya rusak memperoleh bantuan dari pemerintah maupun pihak yang bertanggung jawab atas kecelakaan tersebut. Menurutnya, kondisi para korban memerlukan perhatian segera karena sebagian kehilangan tempat tinggal dan sumber penghasilan.
“Saya berharap pelaku kecelakaan harus mengganti kerusakan rumah warga saya, dan juga memohon Basarnas dan BPBD turut membantu kesusahan warga korban laka,” ujar Jemik Sadiman kepada awak media, Senin (27/7/2026).
Pihak desa juga telah berkoordinasi dengan awak media dan mendata kerusakan yang dialami warga sebagai dasar pengajuan bantuan kepada instansi terkait. Selain penanganan korban, fokus berikutnya adalah percepatan pemulihan lingkungan yang terdampak agar warga dapat kembali menjalankan aktivitas sehari-hari.
Kecelakaan maut ini menjadi pengingat pentingnya keselamatan berkendara, khususnya bagi kendaraan berat yang melintas di jalur padat Surabaya–Malang. Di sisi lain, proses penanganan korban, pemulihan rumah warga, serta pemberian ganti rugi menjadi perhatian utama agar masyarakat terdampak dapat segera bangkit dari musibah yang mereka alami.
Editor:Syafii/red
