Berita Pendidikan & Budaya

Kirab Budaya Randupitu Hidupkan Sejarah dan Filosofi Leluhur

Kirab Budaya Randupitu berlangsung meriah dengan arak-arakan ancak dari tiga dusun, mengangkat sejarah Raden Singowongso dan filosofi Jawa kuno.

PASURUAN, SETAJAMPENA.COM
Kirab Budaya Randupitu bertajuk Kirab Ancak Babat Alas Randupitu Raden Singowongso Mindha Pendopo berlangsung meriah di Desa Randupitu, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Sabtu (5/9/2026) malam.

Ribuan warga memadati jalur kirab sejak rangkaian acara dimulai sekitar pukul 18.00 WIB dari Balai Desa Randupitu hingga berakhir di Lapangan Desa Randupitu.
Arak-arakan tiga ancak dari Dusun Babad, Gesing, dan Randupitu menjadi bagian utama kegiatan. Warga membawa ancak secara bersama-sama menuju kawasan lahan yang direncanakan menjadi lokasi perpindahan pendopo desa.

Iringan musik Hadroh Ishari menambah suasana khidmat sepanjang perjalanan.
Setibanya di kawasan tersebut, masyarakat memberikan ruang bagi para pembawa ancak untuk melanjutkan prosesi. Keterlibatan warga dalam membawa dan mengikuti arak-arakan menunjukkan kuatnya partisipasi masyarakat dalam menjaga tradisi desa.

Setelah prosesi kirab selesai, kegiatan berlanjut di Lapangan Desa Randupitu dengan gebyar budaya dan hiburan. Panitia juga membagikan hadiah serta menggelar doorprize bagi masyarakat. Sepeda listrik menjadi hadiah utama, disertai berbagai hadiah elektronik dan peralatan rumah tangga dengan nilai total mencapai jutaan rupiah.

Kepala Desa Randupitu Mochammad Fuad mengatakan tradisi kirab ancak tidak sekadar menjadi kegiatan perayaan. Menurutnya, tradisi tersebut menjadi momentum untuk mengenang sejarah, merawat akar budaya, sekaligus memperkuat identitas masyarakat Randupitu.

Fuad menjelaskan nama Randupitu memiliki makna yang berkaitan dengan doa dan harapan leluhur agar masyarakat senantiasa memperoleh pertolongan dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Ia juga mengajak masyarakat mengenang perjuangan Raden Singowongso yang dalam cerita sejarah lokal dikenal memiliki kaitan dengan perjuangan membuka kawasan tersebut.
“Bukan lagi membabat pohon, tetapi membabat kemaslahatan, kemiskinan, dan kebodohan,” ujar Fuad.

Panitia juga menampilkan tayangan videotron yang mengangkat sejarah perjuangan masyarakat Desa Randupitu. Tayangan tersebut mengisahkan perjuangan rakyat Arjosari melawan Belanda, termasuk cerita tujuh pohon randu serta tokoh Durrasad dan Singo Wongso.

Oedin selaku panitia menjelaskan pembuatan tumpeng ancak mengikuti pakem Jawa kuno. Setiap bagian memiliki filosofi yang menggambarkan hubungan manusia dengan alam, kehidupan, serta nilai spiritual.

Secara vertikal, ancak terbagi menjadi tiga bagian utama. Bagian pertama disebut Bhurloka, yang berada pada bagian pondasi atau kaki. Bagian ini melambangkan alam dunia sebagai tempat manusia menjalani kehidupan dengan berbagai hawa nafsu dan keterikatan duniawi.

Bagian kedua adalah Bhuvarloka atau tubuh ancak. Bagian ini melambangkan alam antara sebagai ruang transisi dan pembersihan jiwa. Sementara bagian ketiga, Swarloka, berada pada bagian atas atau atap dan melambangkan alam atas yang menggambarkan kesempurnaan serta kebebasan sejati.

Tujuh Tumpeng Kemakmuran
Dalam panduan prosesi, panitia juga menjelaskan makna angka tujuh yang menjadi salah satu unsur penting dalam tradisi tersebut. Angka tujuh dikaitkan dengan tujuh pohon randu yang menjadi bagian dari cerita sejarah Desa Randupitu.
Tujuh juga dimaknai sebagai simbol pituduh atau petunjuk luhur serta pitulungan atau perlindungan dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Sementara unsur hasil bumi pada ancak menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas kesuburan tanah dan rezeki yang diperoleh.
Bagian-bagian ancak juga memiliki makna tersendiri. Polo pendem seperti singkong, ubi, dan talas melambangkan penghormatan terhadap tanah dan asal-usul. Kembang wewangian menjadi simbol harapan terhadap keselamatan dan terbebas dari berbagai persoalan.

Tumpeng dan krawonan atau urap-urap yang beragam melambangkan masyarakat Randupitu yang majemuk tetapi mampu menyatu, hidup rukun, dan membangun kebersamaan. Adapun payung emas di puncak tumpeng menjadi simbol perlindungan dan pengayoman Tuhan Yang Maha Esa.

Prosesi pemotongan tumpeng oleh Kepala Desa Randupitu menjadi bagian penting dalam rangkaian kegiatan. Panitia memaknai pemotongan tersebut sebagai simbol kepemimpinan yang hadir untuk mengayomi masyarakat.
Setelah prosesi, hasil bumi dari tujuh wadah tumpeng dibagikan dan dinikmati bersama warga. Konsep tersebut memperkuat pesan kemakmuran bersama dan menghilangkan sekat sosial dalam kehidupan masyarakat.

Tradisi Kirab Ancak Babat Alas Randupitu pada akhirnya tidak hanya menghadirkan kemeriahan budaya, tetapi juga menjadi ruang untuk mempertemukan sejarah, nilai spiritual, gotong royong, dan kehidupan sosial masyarakat.

Melalui kegiatan tersebut, masyarakat Randupitu kembali menghidupkan cerita perjuangan leluhur sekaligus menerjemahkan semangat perjuangan itu dalam konteks kehidupan masa kini: membangun desa, mengurangi kemiskinan dan kebodohan, serta menjaga persatuan warga.

Editor Syafi’i/red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *