SETAJAMPENA.com, Bima – Mengenang Sosok Almarhum Haji M. Amin Ibrahim, yang lahir di Kelurahan Penaraga Bima adalah seorang pensiunan kepala sekolah SD disuatu daerah terpencil, bermula karena tugas sebagai PNS sehingga tinggal menetap di desa Jia Sape Kabupaten Bima (NTB) sampai akhir hayatnya.
Seorang sosok ayah kami tercinta dari 8 bersaudara, sosok sederhana yang telah membimbing dengan penuh kasih sayang, kami sebagai murid sekaligus sebagai anak, kini telah mendahului meninggalkan kami semua. Banyak kenangan serta petuah yang bermakna yang selalu dikenang sepanjang masa.
Kehilangan sosok ayah adalah salah satu momen terberat. Untuk mengenangnya, kami hanya bisa mendoakannya, melihat kembali kenangan indah, atau merawat nilai-nilai baik yang telah di ajarkan kepada kami anaknya. Mendoakan dan mengirim surat Al-Fatihah setelah selesai sholat lima waktu adalah keharusan yang dilakukan oleh seluruh kami sebagai anaknya.
Dalam petuah yang selalu kami ingat, hiduplah sederhana sesuai kemampuan yang ada, tetaplah bertaqwa kepada Allah karena hidup hanya mampir sementara demi hidup yang kekal dan abadi dialam sana, urusan dunia lihatlah kebawah, urusan akherat tataplah keatas, “Maja labo dahu di Ruma Talla” ( bhs Bima malu dan takutlah pada Allah. red), itulah petuah yang selalu disampaikan pada kami putranya.
Kematian adalah janji yang pasti. Setiap yang bernyawa pasti akan merasakannya, dan kita tidak pernah tahu kapan ia datang menjemput. Saat orang yang kita sayangi, terlebih seorang guru sekaligus ayah tercinta H. M. Amin Ibrahim yang selalu membimbing kita dengan hikmah dan kearifan, dipanggil terlebih dahulu oleh Sang Pencipta, wajar jika hati kita dirundung pilu.
Dalam sunyi yang menghampar di malam kelam, kita terhenyak dalam sepi yang mendalam. Kehilangan Ayahanda sekaligus guru kita tercinta, seorang pembimbing yang bijak dan sederhana, adalah peristiwa yang mengguncang jiwa. Hati kita menangis, dan air mata tertahan tapi tetap tergenang. Namun, di balik kesedihan ini, kita menemukan makna yang mendalam, sebuah pelajaran tentang cinta, ketabahan, dan keikhlasan dari seorang guru yang sederhana penuh kasih sayang, dari Abah M. Amin Ibrahim.
Ayahku sekaligus guruku selamat jalan, semoga husnul khatimah. Sungguh besar pengorbananmu untuk menjadikan anak didikmu berakhlak mulia. Semua tak ada yang sia-sia, semoga Allah menerima segala amal baikmu.
Jika tak ada ayah sebagai guru dalam hidup kami anakmu, apa jadinya kami. Jika tanpa guruku, siapalah kami. Engkau guru kehidupan, namamu akan selalu harum dalam sanubari kami anakmu dan cucu cucumu. Walaupun kini jasadmu telah tiada tapi dirimu selalu hidup dalam sanubari kami. Selamat jalan Ayah dan guruku, semoga jannah tempat kembalimu.(Audi/red)
