Berita Pendidikan & Budaya

Ruwah Dusun Legupit ke-59 Meriah, Wayang Kulit Angkat Pesan Persatuan

Ruwah Dusun Legupit ke-59 berlangsung meriah dengan wayang kulit lakon Kebujuk-e Pendowo 5 dan campursari, menguatkan pesan persatuan warga.

PASURUAN, SETAJAM PENA.COM
– Ruwah Dusun Legupit ke-59 berlangsung meriah di Dusun Legupit, Desa Karangrejo, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Sabtu (3/10/2026).

Rangkaian kegiatan hari kedua tersebut menghadirkan pagelaran wayang kulit dan campursari bersama Ki Dalang Slamet Dharmawan dari Krian, Sidoarjo.
Pagelaran wayang kulit mengangkat lakon “Kebujuk-e Pendowo 5” yang mengisahkan perjalanan lima Pandawa menghadapi tipu daya, bujuk rayu, konflik internal, hingga kembali menyatukan tekad untuk menegakkan kebenaran. Panitia membagi pagelaran dalam dua sesi, yakni pukul 13.00 WIB dan dilanjutkan malam hari hingga selesai.

Sebelum pertunjukan berlangsung, sejumlah tokoh memberikan sambutan. Ketua panitia Ruwah Dusun Legupit, Wawan Prasetyo, menyampaikan terima kasih kepada masyarakat Dusun Legupit serta warga sembilan dusun lainnya yang ikut mendukung rangkaian kegiatan.

Ketua panitia Wawan Prasetyo menyebut rangkaian Ruwah Dusun Legupit telah melewati sejumlah kegiatan, mulai dari ziarah ke makam punden dusun, kirab ancak, hingga pagelaran wayang kulit dan campursari.

Ia berharap seluruh rangkaian tradisi tahunan tersebut membawa keberkahan bagi keluarga dan masyarakat Dusun Legupit.
“Alhamdulillah, meskipun ada sedikit kendala, pelan-pelan dengan doa dan dukungan masyarakat semua bisa terlaksana,” ujar Wawan dalam sambutannya.

Ia juga memberikan apresiasi kepada kepala dusun, panitia, serta seluruh masyarakat yang terlibat dalam pelaksanaan Ruwah Dusun Legupit ke-59.

Ketua BPD Desa Karangrejo, Agus, turut mengapresiasi antusiasme warga. Menurutnya, dukungan masyarakat menunjukkan bahwa tradisi Ruwah Dusun masih memiliki tempat penting dalam kehidupan sosial warga.

BPD Dorong Tradisi Tetap Terjaga
Agus mengatakan kehadiran BPD dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari dukungan terhadap setiap kegiatan masyarakat. Ia berharap seluruh agenda Ruwah Dusun berjalan aman, lancar, dan damai hingga selesai.

Ia juga mendoakan warga Dusun Legupit memperoleh kesehatan, umur panjang, serta rezeki yang melimpah. Kekompakan masyarakat dalam menjaga tradisi, menurutnya, perlu terus dipertahankan dengan dukungan pemerintah desa dan kecamatan.

Sementara itu, Camat Gempol Hadi Mulyono memberikan apresiasi kepada panitia dan warga yang mampu menjaga kekompakan dalam rangkaian kegiatan tersebut.
Hadi juga menyambut Ketua BPD Desa Karangrejo yang baru, Agus, yang berasal dari Dusun Sejo. Ia berharap kepemimpinan BPD dapat terus memberikan kontribusi bagi kemajuan Desa Karangrejo.

Hadi secara khusus menyoroti peran Kepala Dusun Legupit Achmad Nur Muzakky yang dinilainya masih muda dan energik. Ia juga mengapresiasi kerja panitia yang mampu membangun kolaborasi antara generasi muda dan para sesepuh.

Menurut Hadi, rangkaian kegiatan yang berlangsung sejak ziarah, kirab ancak, hingga pertunjukan seni menunjukkan kuatnya kebersamaan masyarakat.
“Kolaborasi kaum muda dan dukungan para sesepuh menjadi kekuatan dalam menyukseskan rangkaian acara,” kata Hadi.

Dalam kesempatan tersebut, Hadi juga menyoroti keberadaan mobil siaga Dusun Legupit yang sebelumnya diluncurkan melalui prosesi potong pita. Ia menyebut kemampuan masyarakat tingkat dusun menyediakan kendaraan siaga sebagai bentuk kekompakan dan kepedulian terhadap kebutuhan warga.

Setelah sambutan, Camat Gempol didampingi Kepala Dusun Legupit dan Kepala Desa Karangrejo menyerahkan gunungan kepada Ki Dalang Slamet Dharmawan sebagai tanda dimulainya pagelaran wayang kulit.

Lakon “Kebujuk-e Pendowo 5” membawa penonton mengikuti kisah Prabu Yudhistira bersama Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa yang menghadapi ujian kesaktian serta kesabaran.

Cerita kemudian berkembang ketika Patih Sengkuni menggunakan tipu muslihat untuk memengaruhi para Pandawa. Perbedaan pendapat membuat hubungan antarsaudara terganggu dan memicu konflik.

Adegan goro-goro menghadirkan Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong untuk mencairkan suasana. Selain menghadirkan humor khas Jawa Timuran, tokoh punakawan menyampaikan sindiran mengenai manusia yang mudah terpengaruh bujuk rayu dan informasi yang tidak benar.

Konflik mencapai puncaknya ketika para Pandawa menyadari bahwa pertentangan tersebut muncul akibat hasutan dan ego pribadi. Semar kemudian memberikan nasihat agar mereka tidak mudah terprovokasi dan mampu mengendalikan hawa nafsu.

Para Pandawa akhirnya kembali bersatu dan menghadapi musuh bersama. Cerita ditutup dengan kemenangan Pandawa serta kembalinya mereka pada jalan kebenaran atau dharma.

Kepala Desa Karangrejo Mohammad Suud juga menyampaikan terima kasih kepada masyarakat Dusun Legupit, warga dusun lain, serta jajaran Muspika yang ikut mendukung kegiatan.
Ia berharap tradisi syukuran tahunan tersebut terus menjadi ruang memperkuat kerukunan warga.

Ruwah Dusun Legupit ke-59 akhirnya tidak hanya menghadirkan hiburan melalui wayang kulit dan campursari. Tradisi tersebut sekaligus menjadi ruang pertemuan warga, penghormatan terhadap sejarah dusun, serta penguatan kebersamaan lintas generasi.
Pesan lakon “Kebujuk-e Pendowo 5” pun menemukan relevansinya dalam kehidupan masyarakat: persatuan akan lebih kuat ketika warga mampu mengendalikan ego, tidak mudah terhasut, dan menjaga kepentingan bersama.

Penulis/editor: Syafi’i/red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *