Berita Pendidikan & Budaya

Seni Ujung Meriahkan Ruwah Desa Bulusari Kabupaten Pasuruan

Seni Ujung meriahkan Ruwah Desa Bulusari, Gempol, dalam rangkaian Hari Jadi ke-1.097 Kabupaten Pasuruan sekaligus melestarikan budaya lokal.

PASURUAN. SETAJAMPENA.COM
Seni Ujung menjadi bagian dari rangkaian Hari Jadi ke-1.097 Kabupaten Pasuruan sekaligus Ruwah Desa Bulusari, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan. Pertunjukan budaya tradisional tersebut digelar di depan Pendopo Desa Bulusari dan mendapat perhatian masyarakat yang hadir untuk menyaksikan langsung kesenian warisan leluhur.

Kepala Desa Bulusari Siti Nurhayati mengatakan, penyelenggaraan Seni Ujung menjadi bagian dari upaya pemerintah desa bersama masyarakat untuk terus menjaga dan mengenalkan tradisi lokal kepada generasi muda.

Menurutnya, Bulusari memiliki keterkaitan kuat dengan sejarah awal pemerintahan di wilayah Pasuruan. Hal tersebut ditunjukkan melalui keberadaan Prasasti Cunggrang yang berada di Dusun Sukci, Desa Bulusari.

Nurhayati menjelaskan, masyarakat Bulusari tidak ingin momentum Ruwah Desa hanya berlangsung sebagai kegiatan seremonial. Karena itu, pemerintah desa memasukkan kesenian tradisional sebagai bagian dari rangkaian kegiatan.
“Cunggrang itu bukti tertulis adanya pemerintahan dan budaya di desa atau wanua Cunggrang, sekarang namanya Bulusari. Salah satu budaya itu adalah Ujung,” terang Nurhayati.

Prasasti Cunggrang tercatat bertanggal 18 September 929 Masehi atau 851 Saka. Prasasti tersebut dikeluarkan pada masa pemerintahan Mpu Sindok dan menjadi salah satu sumber penting dalam penelusuran sejarah kawasan Pasuruan pada masa Kerajaan Medang.

Dalam pertunjukan Seni Ujung di desa Bulu sari tadi siang, adalah dua pemain berhadapan menggunakan rotan sebagai alat untuk melakukan pukulan secara bergantian. Para pemain menunjukkan ketangkasan, keberanian, kemampuan bertahan, sekaligus penguasaan teknik.

Sejumlah teknik pukulan dikenal dalam tradisi Ujung, antara lain pukulan kratonan yang mengarah ke bagian punggung dalam posisi terbuka, pukulan biasa sebagai teknik umum dalam pertandingan, serta pukulan rembangan yang dilakukan secara bersamaan oleh kedua pemain.

Meski mempertontonkan aksi saling pukul, tradisi tersebut memiliki nilai sportivitas dan persaudaraan. Para pemain menjalani pertandingan dalam suasana yang diatur oleh tradisi dan tetap menjaga hubungan baik setelah pertunjukan selesai.

Dalam perkembangannya, Seni Ujung tidak hanya menjadi bentuk adu ketangkasan. Masyarakat juga mengenalnya sebagai bagian dari kegiatan adat, bersih desa, ruwatan, hiburan rakyat, serta ungkapan rasa syukur.

Di sejumlah daerah, tradisi Ujung juga memiliki keterkaitan dengan ritual permohonan hujan. Masyarakat pada masa lalu menjalankan tradisi tersebut ketika menghadapi musim kemarau panjang sebagai bagian dari ikhtiar dan doa bersama.

Seiring perkembangan zaman, bentuk penyelenggaraan Seni Ujung mengalami perubahan. Pertunjukan yang sebelumnya memiliki fungsi ritual dapat hadir sebagai hiburan dalam kegiatan budaya desa, termasuk dalam rangkaian Ruwah Desa di Bulusari.

Kehadiran penonton juga membuat pertunjukan berlangsung lebih meriah. Dalam sejumlah pementasan, masyarakat memberikan saweran sebagai bentuk apresiasi kepada pemain.

Aksi tersebut dapat menjadi bagian dari dinamika hiburan rakyat selama tetap berlangsung secara tertib dan tidak menghilangkan nilai utama kesenian.

Bagi masyarakat Bulusari, pelestarian Seni Ujung menjadi bagian dari upaya menjaga identitas budaya desanya. Tradisi tersebut sekaligus mempertemukan generasi tua dan generasi muda dalam satu ruang kegiatan masyarakat.

Ruwah Desa Bulusari akhirnya tidak hanya menjadi momentum berkumpul dan bersyukur, tetapi juga menjadi ruang untuk mengenalkan kembali sejarah serta kebudayaan lokal.

Perpaduan antara jejak sejarah Prasasti Cunggrang dan pertunjukan Seni Ujung menunjukkan bahwa kebudayaan desa tidak hanya tersimpan dalam catatan masa lalu. Nilai budaya juga dapat terus hidup ketika masyarakat mengenal, merawat, dan mewariskannya kepada generasi berikutnya.

“Uri-uri budaya ini menjadi wujud kita menghargai budaya nenek moyang,” ujar Nurhayati.

Melalui kegiatan tersebut, masyarakat Bulusari menunjukkan bahwa perayaan Ruwah Desa dapat menjadi sarana memperkuat kebersamaan sekaligus menjaga warisan budaya lokal agar tetap dikenal di tengah perubahan zaman.

Editor: Syafi’i red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *