Berita Pendidikan & Budaya

Kisah Jaka Tingkir Menjadi Raja Pajang 

SEJARAH, SETAJAMPENA.COM

Jaka Tingkir Menjadi Raja Pajang menjadi salah satu kisah paling dikenal dalam tradisi sejarah Jawa yang tertuang dalam berbagai babad. Perjalanan hidup tokoh yang lahir dengan nama Mas Karebet itu menggambarkan perjalanan panjang dari seorang anak yatim hingga akhirnya dipercaya memimpin Kerajaan Pajang sebagai Sultan Hadiwijaya.
Menurut tradisi Babad Tanah Jawi, Mas Karebet lahir pada 18 Jumadilakhir Tahun Dal Mongso Kawolu di Pendopo Kraton Pengging, tepat setelah pertunjukan wayang beber yang dimainkan Ki Ageng Tingkir.

Nama Mas Karebet diberikan karena terinspirasi suara “kemrebet” wayang beber yang tertiup angin. Sejak kelahirannya, ayahandanya, Ki Ageng Kebo Kenanga, diyakini telah menerima isyarat bahwa putranya kelak akan mencapai kedudukan tinggNamun, perjalanan hidup Mas Karebet tidak berlangsung mudah. Saat usianya masih sekitar dua tahun, Ki Ageng Kebo Kenanga gugur dalam konflik dengan utusan Kesultanan Demak yang dipimpin Sunan Kudus. Empat puluh hari kemudian, ibundanya juga wafat sehingga Mas Karebet menjadi yatim piatu sejak usia dini.

Setelah kehilangan kedua orang tuanya, Mas Karebet diasuh Nyai Ageng Tingkir dan dibesarkan di Dukuh Tingkir. Sejak itu masyarakat mengenalnya sebagai Jaka Tingkir. Meski hidup berkecukupan, ia lebih banyak menghabiskan waktu bertapa, bersemedi di gunung, berendam di sendang, dan mendalami kehidupan spiritual.

Suatu ketika, Jaka Tingkir bermimpi rembulan jatuh ke pangkuannya. Mimpi tersebut kemudian diceritakan kepada Ki Ageng Selo, guru yang membimbingnya dalam ilmu agama Islam, kanuragan, sastra, pedalangan, hingga pertanian. Ki Ageng Selo menafsirkan mimpi tersebut sebagai pertanda bahwa muridnya akan memperoleh kedudukan besar di masa depan.

Selain belajar kepada Ki Ageng Selo, Jaka Tingkir juga beberapa kali memperoleh bimbingan dari Sunan Kalijaga. Dalam salah satu pertemuan, Sunan Kalijaga memberikan wejangan agar Jaka Tingkir segera menyelesaikan pekerjaannya di sawah dan berangkat mengabdi ke Demak. Wejangan tersebut dikenal melalui bait tembang Asmaradana yang menyebut Jaka Tingkir kelak akan menjadi raja.

Mengabdi di Kesultanan Demak Atas restu Nyai Ageng Tingkir, Jaka Tingkir berangkat menuju Demak dan terlebih dahulu singgah di Desa Ganjur menemui Ki Gada Mustaka. Kesempatan bertemu Sultan Trenggono datang saat Jaka Tingkir membantu membersihkan Masjid Agung Demak menjelang salat Jumat.

Kecekatan dan kemampuan bela dirinya menarik perhatian Sultan Trenggono setelah ia melompati kolam demi menjaga tata krama di hadapan rombongan kerajaan. Peristiwa itu menjadi awal diterimanya Jaka Tingkir sebagai abdi dalem.

Oplus_16908288

Dalam waktu sekitar dua tahun, Jaka Tingkir dipercaya menjabat Lurah Wira Tamtama. Ia dikenal mampu meningkatkan disiplin serta kemampuan pasukan Demak sehingga memperoleh kepercayaan penuh dari Sultan Trenggono. Bahkan, Sultan kemudian mengangkatnya sebagai anak angkat dan memberinya gelar Raden Jaka Tingkir.

Perjalanan karier Jaka Tingkir kembali menghadapi ujian ketika ia membunuh Dadung Gawuk dalam seleksi prajurit. Tindakannya dianggap melanggar aturan sehingga Sultan Trenggono memecat dan mengasingkannya tanpa terlebih dahulu meminta penjelasan.
Dalam pengasingan, Jaka Tingkir bertemu Ki Ageng Butuh dan Ki Ageng Ngerang yang mengungkap asal-usul dirinya sebagai putra Ki Ageng Kebo Kenanga. Setelah itu, ia melanjutkan berguru kepada Ki Buyut Banyubiru yang membekalinya berbagai ilmu sekaligus petunjuk untuk kembali menghadap Sultan.

Menurut kisah babad, Jaka Tingkir berhasil menaklukkan kerbau Danu yang mengamuk di Pesanggrahan Prawata. Keberhasilan tersebut membuat Sultan Trenggono mengampuni kesalahannya dan mengembalikan jabatannya. Tidak lama kemudian, ia diangkat menjadi Panglima Demak, menikah dengan putri Sultan, Ratu Mas Cempaka, dan memperoleh wilayah Pajang sebagai kadipaten.

Sepeninggal Sultan Trenggono, Pajang berkembang menjadi kerajaan yang berdiri sendiri. Raden Jaka Tingkir kemudian menggunakan gelar Sultan Hadiwijaya dan memimpin Kerajaan Pajang.

Kisah Jaka Tingkir hingga menjadi Sultan Hadiwijaya terus hidup dalam tradisi lisan maupun naskah babad Jawa. Meski memuat unsur simbolik dan spiritual yang menjadi bagian dari sastra sejarah Jawa, perjalanan tokoh tersebut tetap dikenang sebagai warisan budaya yang mengajarkan ketekunan, pengabdian, kesetiaan kepada guru, serta pentingnya kepemimpinan yang dibangun melalui proses panjang dan berbagai ujian kehidupan.

Editor: Syafi’i

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *