Menguak misteri Kahuripan, Jenggala, Daha, Kali Porong, Prasasti Cunggrang, dan kawasan Penanggungan melalui bukti prasasti serta temuan arkeologi pada masa Mpu Sendok hingga Airlangga.
SEJARAH, SETAJAMPENA.COM
Menguak Misteri Kahuripan Jenggala Berdasarkan Prasasti dan Arkeologi
PASURUAN – Menguak misteri Kahuripan menjadi salah satu upaya penting untuk memahami lahirnya pusat peradaban baru di Jawa Timur setelah berpindahnya Kerajaan Medang dari Jawa Tengah. Sejumlah prasasti, tinggalan candi, serta kondisi geografis kawasan lereng Gunung Penanggungan hingga sepanjang Kali Porong menjadi dasar berbagai kajian sejarah mengenai masa pemerintahan Mpu Sendok sampai Raja Airlangga.
Sejumlah sejarawan menjelaskan bahwa perpindahan pusat kekuasaan ke Jawa Timur berkaitan dengan peristiwa besar yang dalam sejumlah literatur disebut sebagai pralaya. Peristiwa tersebut diyakini mendorong lahirnya Dinasti Isyana di bawah kepemimpinan Mpu Sendok sekitar abad ke-10 Masehi. Meski demikian, penyebab pasti perpindahan kerajaan masih menjadi bahan penelitian dan perdebatan akademik.
Salah satu bukti penting berasal dari kelompok Prasasti Jedong yang ditemukan di Desa Jedong, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto. Prasasti Jedong I bertahun 848 Saka atau 926 Masehi menyebut nama Kembangsri. Sementara Prasasti Jedong II bertahun 850 Saka atau 928 Masehi mencantumkan nama Mpu Sendok.
Prasasti Jedong III bertahun 962 Saka atau 1040 Masehi kemudian menyebut nama Airlangga. Selanjutnya Prasasti Jedong IV bertahun 1041 Saka atau 1119 Masehi memuat nama Raja Bhameswara dari Kediri. Rangkaian prasasti tersebut menunjukkan kesinambungan sejarah kawasan sekitar lereng Gunung Penanggungan selama hampir dua abad.
Di wilayah Kabupaten Pasuruan, terdapat pula Prasasti Sukci atau lebih dikenal sebagai Prasasti Cunggrang yang bertahun 851 Saka atau 929 Masehi. Prasasti yang berada di Dusun Sukci, Desa Bulusari, Kecamatan Gempol itu menjadi salah satu sumber utama untuk memahami perkembangan pemerintahan awal Dinasti Isyana di kawasan Penanggungan.
Selain prasasti, sejumlah tinggalan arkeologi juga menjadi perhatian peneliti. Candi Gunung Gangsir di Kecamatan Beji dan situs Candi Kebo Ireng di wilayah desa Ngerong kecamatan Gempol berada tidak jauh dari alur lama Kali Porong atau cabang Sungai Brantas.
Dalam beberapa hasil kajian arkeologi disebutkan bahwa Candi Gunung Gangsir diperkirakan berasal dari masa Mpu Sendok. Sementara Candi Kebo Ireng oleh sebagian peneliti dikaitkan dengan masa pemerintahan Airlangga.
Di lokasi tersebut juga pernah ditemukan relief yang dinilai memiliki kemiripan dengan simbol Surya Majapahit, meski interpretasi mengenai maknanya masih terus dikaji oleh para ahli.
Letak kawasan tersebut dinilai strategis karena berada di antara lereng Gunung Penanggungan dan jalur sungai besar yang menghubungkan wilayah pedalaman dengan kawasan pesisir.
Kondisi geografis itu diduga menjadi salah satu alasan kawasan sekitar Kali Porong berkembang sebagai pusat pemerintahan, perdagangan, maupun aktivitas keagamaan pada masanya.
Berbagai teori juga menghubungkan kawasan Kali Porong dengan jalur menuju pelabuhan kuno Hujung Galuh serta perkembangan kerajaan Kahuripan, Jenggala, dan Daha. Namun, hubungan tersebut masih memerlukan dukungan bukti arkeologi dan penelitian ilmiah yang lebih komprehensif agar dapat dipastikan secara historis.
Demikian pula dengan berbagai kisah mengenai lokasi pertapaan Dewi Kilisuci maupun keterkaitan Candi Taman Blimbing dengan jaringan situs pada masa Airlangga. Hingga kini, informasi tersebut masih menjadi bagian dari kajian sejarah, tradisi lokal, dan penelitian yang terus berkembang.
Para sejarawan menegaskan bahwa rekonstruksi sejarah harus bertumpu pada historiografi, data arkeologi, prasasti, serta penelitian ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan pendekatan tersebut, warisan sejarah di kawasan Penanggungan, Kali Porong, hingga Gempol diharapkan semakin dipahami sebagai bagian penting perjalanan panjang peradaban Jawa Timur sekaligus menjadi aset budaya yang layak dilestarikan bagi generasi mendatang.
Editor Syafi’i/red
