Berita Partai & Organisasi Berita Warna Warni

Andre Rosiade Kecam Promosi ‘Hafal Quran Berhadiah Miras’ di The Sounds Project, Sebut Sebagai Penistaan

Wakil Ketua Komisi VI DPR Fraksi Gerindra Andre Rosiade: (Dok. Istimewa)

 

SETAJAMPENA.com, Jakarta – Wakil Ketua Komisi VI DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra, Andre Rosiade, melayangkan kecaman keras terhadap aksi promosi kontroversial yang menjadikan hafalan ayat Al-Qur’an sebagai syarat untuk mendapatkan minuman keras (miras) gratis di ajang festival musik The Sounds Project.

Menurut Andre, tindakan tersebut merupakan bentuk pelecehan terhadap nilai-nilai agama yang sangat mencederai perasaan umat Islam. Ia menegaskan bahwa Al-Qur’an sebagai kitab suci harus senantiasa dijunjung tinggi kemuliaannya dan sangat tidak pantas disandingkan atau dijadikan alat pemasaran produk beralkohol.

“Tindakan ini sangat tidak etis dan menyentuh ranah sensitif. Menjadikan hafalan ayat Al-Qur’an sebagai modal promosi miras adalah bentuk penyalahgunaan simbol agama yang amat nyata dan tidak bisa ditoleransi,” ujar Andre dalam keterangan tertulisnya, Selasa (11/8/2026).

Menanggapi insiden tersebut, Andre mendesak aparat penegak hukum serta pemerintah daerah setempat untuk segera memanggil dan mengusut tuntas pihak penyelenggara acara agar memberikan efek jera. Politisi Partai Gerindra ini juga meminta instansi berwenang untuk memperketat perizinan penyelenggaraan hiburan publik, sekaligus mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan menyerahkan proses hukum sepenuhnya kepada pihak berwajib.

“Ini jelas-jelas penistaan agama dan sangat melukai hati umat Islam. Ayat suci Alquran yang sangat dimuliakan malah disandingkan dan dijadikan alat promosi untuk mendapatkan minuman keras. Ini sangat kelewatan dan tidak beradab!” tegasnya.

Respons Penyelenggara dan Permintaan Maaf MC

Pihak penyelenggara festival musik The Sounds Project langsung memberikan klarifikasi melalui akun Instagram resmi mereka, @thesoundsproject. Pihak promotor menegaskan bahwa mereka mengecam keras tindakan tersebut dan menyatakan kejadian itu berada di luar kendali manajemen.

“Kami sebagai penyelenggara acara turut merasa marah, kecewa, dan mengecam perilaku tersebut. Kami tidak pernah dan tidak akan pernah membenarkan perilaku yang menjadikan agama sebagai bahan challenge atau promosi produk dalam bentuk apa pun,” tulis pernyataan resmi tersebut.

Sementara itu, Master of Ceremony (MC) yang bertugas di lokasi kejadian bernama Ega turut menyampaikan permohonan maaf terbuka melalui akun Threads pribadinya, @aqueer_. Ia mengakui telah melakukan kelalaian sehingga pengeras suara atau mikrofon sempat dikuasai oleh audiens saat insiden itu terjadi.

“Saya Ega, selaku MC pada acara musik yang bertugas di booth Newport pada Hari Minggu, 9 Agustus 2026. Dengan ini menyampaikan permohonan maaf atas kejadian yang berlangsung pada saat itu,” tulis Ega. net

 

Redaktur: Audi 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *