SETAJAMPENA. Com, Jombang. Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang telah melahirkan kepemimpinan baru PBNU Yakni Gus Kikin. Di tengah dinamika pergantian kepemimpinan tersebut, suara harapan datang dari Kota Santri.
Ketua LAZISNU Jombang, Neng Eka Susanti Zakki, berharap Ketua PBNU terpilih mampu membawa NU kembali pada khittah perjuangan, memperkuat pelayanan kepada umat, sekaligus menjaga kemandirian organisasi.
“Sebagai warga Nahdliyin, harapan utama kepada Ketua PBNU terpilih adalah kemampuannya untuk membawa organisasi kembali pada khittah perjuangan, memperkuat pelayanan umat, serta menjaga kemandirian organisasi,” kata Neng Santi. Kamis (3/9).
Harapan tersebut, menurutnya, bukan sekadar persoalan pergantian figur di tubuh PBNU. Lebih dari itu, kepemimpinan baru diharapkan mampu menjadikan momentum Muktamar NU ke-35 sebagai titik penguatan kembali hubungan antara organisasi dan warga Nahdliyin.
Bagi warga NU di akar rumput, kekuatan organisasi bukan hanya diukur dari soliditas struktur dan dinamika politik organisasi. Ukuran yang lebih sederhana adalah ketika kehadiran NU benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Kembali Dekat dengan Umat Serta Perkuat Badan Otonom
Neng Santi berharap NU ke depan semakin dekat dengan persoalan umat, terutama masyarakat yang berada di lapisan bawah.
Menurutnya, NU memiliki modal sosial yang besar. Jaringan pesantren, lembaga pendidikan, badan otonom, lembaga amil zakat, serta ribuan jamaah merupakan kekuatan yang jika dikelola dengan baik dapat menjadi energi besar untuk pemberdayaan umat.
Karena itu, kepemimpinan PBNU terpilih diharapkan tidak hanya memperkuat konsolidasi organisasi, tetapi juga memperluas pelayanan dan pemberdayaan masyarakat.
“Kemandirian organisasi juga penting. NU memiliki kekuatan jamaah dan jaringan yang besar. Semua itu harus bisa menjadi kekuatan untuk memberikan manfaat yang lebih luas kepada umat,” ujarnya.
Dari Jombang, tempat Muktamar ke-35 NU berlangsung, pesan tersebut terdengar sederhana. Tidak ada sorak kemenangan dan tidak pula suara kekalahan.
Hanya sebuah harapan dari pinggiran Kota Santri agar setelah Muktamar, NU semakin teduh, mandiri dan dekat dengan jamaahnya.
Sebab bagi warga Nahdliyin di akar rumput, pergantian Ketua PBNU bukanlah akhir dari sebuah proses. Justru di situlah pekerjaan besar dimulai membuktikan bahwa NU tetap menjadi rumah besar yang hadir dan bermanfaat bagi umat.
” Serta memperkuat koordinasi dengan Banom untuk bersinergi menjalankan roda organisasi yang bermanfaat untuk umat,” pungkasnya. (din)
Editor : Hikmah/Red
