Raden Trunajaya memimpin perlawanan besar terhadap Mataram pada abad ke-17. Simak akar konflik Madura, aliansi Galesong-Kajoran, jatuhnya Plered, hingga eksekusinya pada 1680.
SEJARAH, SETAJAMPENA.COM
Raden Trunajaya menjadi salah satu tokoh penting dalam sejarah pergolakan politik Jawa pada abad ke-17. Bangsawan Madura tersebut memimpin gerakan bersenjata yang mengguncang kekuasaan Mataram dan pada akhirnya menyeret VOC ke dalam konflik yang berlangsung hingga akhir 1679.
Konflik itu mempertemukan kepentingan bangsawan Madura, elite Jawa, kelompok keagamaan, serta para pejuang Makassar yang menolak dominasi VOC setelah kekalahan Gowa. Sejumlah kajian sejarah menempatkan faktor politik, perebutan kekuasaan, hubungan antarkerajaan, dan ketegangan dengan Mataram sebagai unsur penting yang membentuk pemberontakan tersebut.
Dalam perkembangannya, Trunajaya membangun jaringan dengan Raden Kajoran dan Karaeng Galesong. Aliansi tersebut kemudian berkembang menjadi kekuatan militer yang mampu menguasai sejumlah wilayah penting di pesisir utara dan Jawa Timur sebelum akhirnya berhadapan langsung dengan Mataram dan VOC.
Akar Madura dan Warisan Arosbaya
Trunajaya berasal dari lingkungan bangsawan Madura yang memiliki hubungan dengan keluarga Cakraningrat. Tradisi genealogis yang berkembang di Madura juga menghubungkan sejumlah garis bangsawan tersebut dengan penguasa-penguasa sebelumnya di Jawa dan Madura. Namun, rincian silsilah seperti hubungan hingga Aria Damar, Brawijaya V, maupun sejumlah tokoh awal Arosbaya perlu dibaca sebagai bagian dari tradisi genealogis dan babad, bukan seluruhnya sebagai fakta yang dapat diverifikasi secara independen.
Arosbaya sendiri memiliki posisi penting dalam sejarah Madura. Pada abad ke-16 dan awal abad ke-17, kawasan tersebut berkembang sebagai salah satu pusat kekuasaan politik dan keagamaan. Perubahan besar terjadi setelah Sultan Agung dari Mataram menaklukkan Madura pada 1624.
Penaklukan itu mengubah struktur politik Madura. Raden Prasena menjadi salah satu bangsawan yang kemudian dibawa ke lingkungan Mataram dan diangkat sebagai penguasa Madura dengan gelar Cakraningrat I. Hubungan antara keluarga bangsawan Madura dan Mataram selanjutnya berlangsung dalam situasi yang kompleks, karena kepentingan lokal Madura tetap berhadapan dengan tuntutan politik pusat Mataram.
Ketegangan tersebut ikut menjadi latar belakang munculnya Trunajaya sebagai tokoh perlawanan. Ia tidak hanya mengandalkan kekuatan Madura, tetapi juga membangun jaringan dengan kelompok-kelompok yang memiliki kepentingan berbeda terhadap Mataram.
Raden Kajoran, tokoh elite keagamaan dan bangsawan Jawa, kemudian bergabung dalam gerakan tersebut. Hubungan keluarga semakin memperkuat jaringan politik dan sosial antara Trunajaya dengan kelompok Kajoran.
Pada saat yang sama, Karaeng Galesong membawa kekuatan orang-orang Makassar ke dalam konflik. Setelah Perjanjian Bongaya 1667 memperlemah posisi Kesultanan Gowa dan memperkuat VOC di Sulawesi Selatan, sebagian kelompok Makassar memilih melanjutkan perlawanan di wilayah lain. Galesong kemudian menjalin aliansi dengan Trunajaya.
Persekutuan Madura-Makassar itu memberi Trunajaya kekuatan tambahan. Pasukan mereka bergerak melalui wilayah pesisir dan menyerang sejumlah kota penting yang memiliki fungsi ekonomi serta strategis bagi Mataram.
Pada 1675 hingga 1676, kekuatan Trunajaya dan Galesong berkembang pesat. Sejumlah kota di Jawa Timur dan pesisir utara jatuh ke tangan pasukan pemberontak. Surabaya menjadi salah satu kota penting yang kemudian dikuasai pasukan Trunajaya dan sekutunya.
Perlawanan semakin besar setelah pasukan Trunajaya dan Galesong menghadapi tentara Mataram dalam Pertempuran Gegodog pada 1676. Pasukan Mataram mengalami kekalahan besar, sementara kekuatan pemberontak memperoleh momentum untuk memperluas pengaruhnya.
Kemenangan itu membuat gerakan Trunajaya tidak lagi sekadar konflik lokal Madura. Pasukan pemberontak kemudian bergerak di sepanjang pesisir utara Jawa dan merebut sejumlah kota. Kondisi tersebut mengganggu jalur perdagangan dan komunikasi Mataram sekaligus meningkatkan kekhawatiran VOC terhadap keamanan kepentingan dagangnya.
Plered Jatuh, Mataram Terdesak
Puncak keberhasilan Trunajaya terjadi pada Juni 1677 ketika pasukannya berhasil merebut Plered, pusat pemerintahan Mataram. Amangkurat I meninggalkan ibu kota bersama putra mahkota, Pangeran Adipati Anom, yang kemudian menjadi Amangkurat II.
Jatuhnya Plered menunjukkan bahwa kekuatan militer Mataram berada dalam kondisi serius. Amangkurat I kemudian wafat dalam perjalanan pelarian. Setelah itu, Amangkurat II menghadapi persoalan besar karena harus memulihkan kekuasaan sekaligus mencari kekuatan militer untuk menghadapi Trunajaya.
Dalam kondisi tersebut, VOC memperoleh posisi strategis. Amangkurat II meminta bantuan VOC untuk merebut kembali kekuasaannya. Kerja sama itu kemudian membawa pasukan VOC dan sekutunya ke dalam perang melawan Trunajaya.
Kekuatan pemberontak akhirnya mengalami perpecahan. Karaeng Galesong dan kelompoknya menghadapi tekanan militer yang semakin kuat. Basis perlawanan Makassar di Jawa juga mengalami serangkaian serangan. Galesong meninggal pada 1679.
Sementara itu, Trunajaya terus menghadapi tekanan gabungan pasukan VOC dan Mataram. Setelah serangkaian kekalahan, posisi Trunajaya semakin terdesak hingga akhirnya ditangkap pada akhir 1679. Sejumlah sumber sejarah menyebut penangkapannya berlangsung pada 1679 di wilayah Jawa Timur.
Pada 2 Januari 1680, Trunajaya dieksekusi di Payak di hadapan Amangkurat II. Catatan sejarah menyebut Amangkurat II sendiri membunuh Trunajaya menggunakan keris dalam sebuah peristiwa yang kemudian menjadi salah satu bagian paling terkenal dari sejarah pemberontakan tersebut.
Eksekusi itu menandai berakhirnya perlawanan utama Trunajaya. Namun, kemenangan tersebut sekaligus menunjukkan semakin kuatnya keterlibatan VOC dalam urusan politik Mataram.
Hingga kini, sosok Trunajaya memiliki tempat yang kompleks dalam historiografi Jawa dan Madura. Sumber-sumber yang lahir dari lingkungan kekuasaan Mataram maupun kolonial VOC cenderung menggambarkannya dari sudut pandang penguasa yang menghadapi pemberontakan.
Sementara tradisi lokal dapat memberikan penekanan berbeda terhadap latar belakang, kehormatan, dan perjuangan tokoh tersebut.
Karena itu, menyebut Trunajaya semata-mata sebagai pemberontak atau pahlawan juga berisiko menyederhanakan konteks sejarah. Gerakannya lahir dari persilangan kepentingan politik Madura, konflik elite Mataram, jaringan keagamaan, serta perlawanan kelompok Makassar terhadap VOC.
Pemberontakan Trunajaya akhirnya gagal menggulingkan kekuasaan Mataram. Namun, perang tersebut meninggalkan dampak panjang terhadap politik Jawa. Mataram semakin bergantung pada bantuan VOC, sementara perusahaan dagang Belanda itu memperoleh ruang lebih besar untuk ikut campur dalam urusan politik kerajaan.
Lebih dari tiga abad kemudian, kisah Trunajaya tetap penting bukan hanya karena peperangannya, tetapi karena memperlihatkan bagaimana perebutan kekuasaan, identitas politik, kepentingan ekonomi, dan jaringan antardaerah dapat bertemu dalam satu konflik besar. Jejak sejarahnya mengingatkan bahwa sebuah pemberontakan tidak pernah lahir dari satu sebab tunggal, melainkan dari akumulasi ketegangan yang berkembang selama bertahun-tahun.
Editor Syafi’i/red.
