Mengenal Komjen Pol. (Purn) Moehammad Jasin, Proklamator Polisi di Surabaya, Bapak Brimob, dan Pahlawan Nasional yang berjasa mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
SURABAYA, SETAJAMPENA.COM
Mengenal Komjen Moehammad Jasin berarti menelusuri salah satu tokoh penting dalam sejarah Kepolisian Negara Republik Indonesia. Lahir di Baubau, Sulawesi Tenggara, pada 9 Juni 1920, Komjen Pol. (Purn) Moehammad Jasin dikenal sebagai tokoh yang berperan besar dalam mempertahankan kemerdekaan sekaligus membangun fondasi Brigade Mobile atau Brimob.
Moehammad Jasin berasal dari garis keturunan bangsawan. Ia tercatat sebagai keturunan keenam Raja Bone ke-22. Namun, perjalanan hidupnya tidak sekadar melekat pada latar belakang keluarga. Ia justru menorehkan sejarah melalui pengabdian di kepolisian dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Peran penting Moehammad Jasin muncul pada masa awal kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, ia berpangkat Inspektur Polisi Kelas I dan memimpin pasukan Polisi Istimewa atau Tokubetsu Keisatsutai di Surabaya.
Pada 21 Agustus 1945, Moehammad Jasin memimpin pembacaan Proklamasi Polisi di Surabaya. Langkah tersebut menegaskan sikap kepolisian untuk berdiri di bawah negara Republik Indonesia yang baru memproklamasikan kemerdekaannya.
Momentum tersebut memiliki arti penting karena kepolisian tidak hanya menjalankan fungsi keamanan, tetapi juga mengambil posisi dalam mempertahankan kedaulatan negara. Dari Surabaya, semangat tersebut berkembang menjadi bagian dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Masyarakat dan institusi kepolisian kemudian mengenal Moehammad Jasin sebagai Bapak Brigade Mobile (Brimob). Dedikasinya dalam membangun dan mengembangkan satuan kepolisian tersebut membuat namanya memiliki tempat khusus dalam sejarah Polri.
Dalam rangkaian perjuangan di Surabaya, Moehammad Jasin juga disebut menggerakkan pasukannya untuk merebut gudang senjata Jepang. Persenjataan tersebut menjadi salah satu modal penting bagi perjuangan rakyat dan aparat dalam menghadapi situasi keamanan setelah Proklamasi Kemerdekaan.
Peran itu memperlihatkan bagaimana kepolisian pada masa awal republik menghadapi tantangan yang jauh berbeda dengan tugas kepolisian dalam kondisi negara yang telah stabil. Personel kepolisian ikut berada di garis depan dalam menjaga keamanan dan mempertahankan kemerdekaan.
Moehammad Jasin mengakhiri hidupnya pada 3 Mei 2012. Pengabdian panjangnya kemudian mendapat pengakuan negara. Pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Moehammad Jasin pada 5 November 2015.
Penghargaan tersebut menjadi bentuk pengakuan atas jasa dan perjuangannya bagi bangsa serta negara. Jejak sejarahnya juga menjadi bagian dari perjalanan panjang Polri dalam membangun institusi yang berperan menjaga keamanan sekaligus mempertahankan kedaulatan Indonesia.
Kisah Moehammad Jasin tidak berhenti sebagai catatan sejarah. Bagi generasi penerus, perjuangannya menunjukkan bahwa pengabdian kepada negara membutuhkan keberanian, tanggung jawab, dan kesetiaan terhadap kepentingan bangsa. Sosoknya tetap menjadi bagian penting dari sejarah Polri dan perjalanan lahirnya Brimob.
Editor Syafi’i/red
