Berita Warna Warni

Perbincangan seputar program MBG bagi kami orang pinggiran.

 

SETAJAMPENA.Com.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah salah satu program super prioritas Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan menekan angka stunting di Indonesia.

Tujuan dan Manfaat Utama
Peningkatan Gizi yaitu untuk memenuhi kebutuhan gizi dasar anak-anak sekolah dan ibu hamil agar tumbuh sehat dan cerdas, serta pengentasan Stunting yaitu mengatasi masalah kelaparan dan pertumbuhan sel tubuh yang tidak optimal akibat kurang gizi. Penggerak Ekonomi Desa, yaitu menggerakkan rantai pasok lokal yang melibatkan petani, nelayan, peternak, dan UMKM.

Pelaksanaan dan Pengawasan
Badan Gizi Nasional (BGN) adalah
Lembaga resmi yang bertanggung jawab langsung mengelola dan mengawasi distribusi makanan. Pemerintah tetap melakukan Evaluasi berkelanjutan, dimana Pemerintah berkomitmen menjalankan program ini dengan perbaikan tata kelola, efisiensi anggaran, serta pengawasan keamanan pangan yang ketat.

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menilai anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang masuk ke dalam pos anggaran pendidikan merupakan konsekuensi logis karena penerima manfaatnya adalah para peserta didik.

Demikian keterangan DPR yang disampaikan oleh Anggota Komisi III DPR I Wayan Sudirta dalam sidang lanjutan uji materiil Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2025 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2026 (UU APBN 2026) yang berkaitan dengan anggaran pendidikan. Sidang tersebut digelar untuk tiga permohonan, yakni Permohonan Nomor 40/PUU-XXIV/2026, Nomor 52/PUU-XXIV/2026, dan Nomor 55/PUU-XXIV/2026.
“Pendanaan program makan bergizi dalam anggaran pendidikan merupakan konsekuensi logis mengingat salah satu target manfaat program makan bergizi ialah peserta didik,” ungkapnya.

Sasaran utama program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah adalah anak-anak sekolah serta kelompok rentan gizi (ibu hamil, ibu menyusui, dan balita).

Berdasarkan kebijakan Badan Gizi Nasional (BGN), rincian kelompok penerima manfaat program MBG meliputi: Ibu Hamil yang Mendapatkan intervensi gizi untuk mencegah stunting sejak dalam kandungan serta menghindari risiko bayi lahir prematur.
Ibu Menyusui diberikan dukungan nutrisi guna memastikan kualitas produksi ASI eksklusif yang optimal bagi bayi.

Balita (Anak Usia di Bawah 5 Tahun): Difokuskan untuk memantau tumbuh kembang anak serta mencegah terjadinya gagal tumbuh atau stunting di masa emas. Peserta Didik (Anak Sekolah) yang meliputi anak-anak aktif dari jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Pendidikan Dasar (SD, SMP), hingga Pendidikan Menengah (SMA/SMK/MA/Pesantren) di seluruh Indonesia.

Catatan Revisi Kebijakan, Penyaluran untuk anak sekolah kini diefisiensi dan diprioritaskan bagi yang memerlukan intervensi gizi, dengan pengecualian bagi sekolah-sekolah di wilayah tertentu yang dinilai sudah mampu mencukupi kebutuhan gizinya sendiri.

Dari isi catatan Redaksi SETAJAMPENA.Com tersebut ada pemerhati kebijakan publik yang mengeluarkan unek unek dari pelosok wilayah Indonesia Tengah (Bima).
Saudara Arthur Bernard Rotte dengan tegas mengatakan, Makanan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih (MBG & KOPDES) itu Program Pribadi Prabowo yang tidak melalui mekanisme pembahasan DPR dan lembaga terkait, makanya program MBG menemui banyak persoalan, tidak semestinya sebuah program nasional yg menyangkut kemaslahatan orang banyak begitu di cetus langsung jalan, ungkap Arthur.

Seharusnya mengkaji dan membahas masalah program MBG sebenarnya tidak cukup waktu setahun, ini sangat janggal, begitu menjabat program MBG langsung dijalankan, sungguh aneh kata Arthur, APBN jadi Korban Masyarakat jadi Korban anak sekolah jadi Korban, sedangkan bagi para pejabat dan petugas pelaku MBG KORUPSI BERJAMAAH, Presidennya Ego tidak punya rasa, bubarkan MBG, lanjut Arthur.

Sebelum menutup cuap cuapnya di group Arthur berpesan, kalau Pemerintah mau berpikir secara realistis direvisi saja program MBG menjadi Tunai ke Siswa atau ke Orang tua Siswa, diganti dengan uang tunai 15 ribu/hari atau 25 ribu/hari, negara tidak akan rugi, negara tidak akan ribet mikiri bayar gaji pegawai MBG, beli sepeda listrik 2 Triliun buat petugas, Kipas Angin 1,8 Triliun dan seterusnya.

Belum lagi resiko di Korupsi oleh oknum dan pejabat, kasih uang tunai ke Orang tua, pengawasanya jelas dan tidak ribet, tidak menimbulkan banyak masalah serta jauh dari sifat korupsi, pungkas Arthur bagian dari anggota Partai Gerindra akar rumput Bima.

Sementara Suhartini ibu rumah tangga dari Surabaya mengatakan Cucuku belum pernah dapat makan MBG,sampai lulus SMP, sekarang sudah masuk SMA juga belum pernah merasakan program MBG, ya tidak berharap banyak untuk menikmati program MBG karena masih bisa membawa bontotan (paket makan) dari rumah ungkap Suhartini.

Lain lagi dengan M.Yusuf yang tinggal dilokasi proyek di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, yang hanya bertanya, Mas maaf ana (saya)sampai hari ini belum tau apakah MBG ini diperuntukan bagi siswa yg miskin saja atau semua siswa begitu. Muncul pertanyaan seperti itu berarti program MBG belum merata dirasakan oleh seluruh siswa di Indonesia. (Hiki)

Editor : Audi/Red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *