Berita Pendidikan & Budaya

Mpu Prapanca Menyusuri Japan hingga Keta, Jejak Majapahit

Mpu Prapanca merekam perjalanan Hayam Wuruk dalam Nagarakretagama, dari Japan dan Kepulungan hingga Patukangan dan Keta.

JEJAK SEJARAH, SETAJAMPENA.COM
– Mpu Prapanca merekam perjalanan Raja Majapahit Hayam Wuruk dalam Kakawin Nagarakretagama, termasuk penelusuran wilayah Japan (Japanan), Kepulungan, hingga Lumajang dan Keta. Catatan perjalanan tersebut menggambarkan bukan hanya pergerakan rombongan kerajaan, tetapi juga kondisi permukiman, keberadaan tempat keagamaan, hubungan antardaerah, serta penyambutan masyarakat terhadap kedatangan raja pada abad ke-14.

Dalam Pupuh 17 hingga Pupuh 30, Prapanca menguraikan perjalanan Sri Nata atau Hayam Wuruk pada tahun Saka 1281, yang bertepatan dengan 1359 Masehi. Rombongan bergerak melintasi sejumlah desa dan wilayah pesisir, disertai para pejabat kerajaan, pendeta, pujangga, prajurit, serta pengiring lainnya.

Catatan tersebut memperlihatkan bagaimana perjalanan kerajaan menjadi sarana untuk mengenali wilayah yang berada dalam pengaruh Majapahit. Prapanca juga menggambarkan peran tempat-tempat keagamaan, desa perdikan, serta masyarakat yang menyediakan berbagai kebutuhan bagi rombongan.

Prapanca memulai penggambaran perjalanan dari kawasan Japan, yang dalam catatan tersebut dikaitkan dengan Japanan. Rombongan melewati sejumlah permukiman, tempat asrama, serta bangunan candi yang sebagian disebut telah rusak atau roboh.

Perjalanan kemudian berlanjut menuju kawasan yang disebut Tebu, hutan Pandawa, Duluwang, Bebala di dekat Kanci, Ratnapangkaja, serta sejumlah tempat lainnya. Rangkaian nama tersebut memberikan gambaran mengenai jalur perjalanan dan lingkungan permukiman yang dilalui rombongan kerajaan.

Setelah mengunjungi candi makam Pancasara, (Lokasi Candi Bangkal (Pancasara) saat ini berada di Dusun Bangkal, Desa Candiharjo, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto) selanjutnya rombongan menginap di Kapulungan. Dalam catatan perjalanan berikutnya, Prapanca menyebut Waru dan Hering sebelum rombongan melanjutkan perjalanan ke kawasan pesisir.

Nama Kapulungan menjadi salah satu titik penting dalam rangkaian perjalanan tersebut. Pupuh 18 mengawali kisah keberangkatan Sri Nata atau Raja Hayam Wuruk dari Kapulungan, dengan gambaran rombongan yang padat oleh kereta, pedati, prajurit berjalan kaki, gajah, dan kuda.

Pupuh 19 hingga Pupuh 24 menggambarkan perjalanan rombongan menuju sejumlah wilayah, termasuk Baya, Katang, Kedung Dawa, Rame, Lampes, dan Madakaripura. Prapanca mencatat keberadaan tempat keagamaan serta kawasan yang menjadi bagian dari perjalanan kerajaan.

Di Madakaripura, Hayam Wuruk menempati pasanggrahan dan mengunjungi mata air. Prapanca juga menyebut tanah tersebut sebagai anugerah raja kepada Gadjah Mada, yang menunjukkan keterkaitan antara pengelolaan wilayah, tokoh kerajaan, dan tempat persinggahan.

Perjalanan kemudian berlanjut melewati berbagai desa dan kawasan pesisir. Rombongan menyusuri Dampar, Patunjungan, Palumbon, serta sejumlah tempat lain sebelum bergerak menuju kawasan yang disebut Sadeng.

Prapanca menggambarkan perjalanan tersebut melalui bentang alam yang beragam, mulai dari sawah, hutan, sungai, hingga pantai. Ia juga mencatat sejumlah tempat yang memiliki hubungan dengan kehidupan keagamaan, termasuk kasogatan atau lingkungan yang berkaitan dengan komunitas Buddha.Setelah melewati berbagai permukiman, perjalanan kerajaan akhirnya mencapai Patukangan. Patukangan diidentifikasikan berada di wilayah Panarukan, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Mpu Prapanca menggambarkan lokasinya terletak di tepi laut yang tenang.

Pupuh 25 hingga Pupuh 28 menggambarkan kehadiran para menteri, pejabat keagamaan, serta penguasa daerah yang datang untuk menghadap Sri Nata.
Adipati Suradikara memimpin upacara penyambutan di Patukangan. Masyarakat setempat menyampaikan persembahan, sedangkan raja memberikan hadiah berupa kain kepada penduduk. Prapanca juga mencatat berbagai pertunjukan, seperti tari topeng, permainan, dan kegiatan yang menghibur masyarakat.

Dalam Pupuh 28, Prapanca menyebut kedatangan para menteri dari Bali, Madura, Balumbung, serta wilayah Jawa Timur. Catatan tersebut menunjukkan bahwa perjalanan kerajaan tidak hanya melibatkan pejabat pusat, tetapi juga penguasa daerah dan masyarakat dari berbagai wilayah.
Prapanca turut mencatat sisi personal perjalanan tersebut. Ia mengungkapkan kesedihan atas wafatnya Panji Kertajaya, seorang kawan dekat yang sebelumnya menemani perjalanan dan kegiatan keagamaan. Setelah melewati Bungatan dan sejumlah tempat lain, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Keta.

Pupuh 30 menyebut Hayam Wuruk tinggal di Keta selama lima hari. Raja menikmati pemandangan laut dan balai kambang, sementara para pejabat kerajaan menghadap serta masyarakat datang membawa berbagai bahan makanan.

Nagarakretagama sebagai Rekaman Sejarah Nusantara
Rangkaian Pupuh 17 hingga Pupuh 30 memperlihatkan cara Mpu Prapanca merekam perjalanan kerajaan secara terperinci. Ia tidak hanya mencatat nama tempat, tetapi juga menggambarkan susunan rombongan, kegiatan keagamaan, hubungan penguasa daerah, serta bentuk interaksi antara raja dan masyarakat.

Catatan tersebut menjadi sumber penting untuk menelusuri gambaran geografis dan kehidupan sosial pada masa Majapahit. Namun, penyebutan suatu tempat dalam kakawin tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa wilayah tersebut berada di bawah kendali administratif langsung kerajaan. Peneliti perlu membandingkan catatan Prapanca dengan sumber sejarah dan bukti arkeologis lainnya.

Perjalanan dari Japan, Kapulungan, hingga Keta menunjukkan bahwa Nagarakretagama menyimpan lebih dari sekadar kisah kebesaran seorang raja. Di dalamnya terdapat rekaman perjalanan yang membantu pembaca memahami bagaimana wilayah, masyarakat, dan kehidupan keagamaan saling terhubung dalam lanskap Nusantara pada abad ke-14.

Editor: Syafi’i

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *