Berita Pendidikan & Budaya

Negarakertagama Ungkap Jejak Wangsa Rajasa dalam Pupuh 38–49

Pupuh 38–49 Nagarakretagama karya Mpu Prapanca mengungkap perjalanan sejarah Wangsa Rajasa, dari Rangga Rajasa di Singasari hingga pemerintahan Tribhuwana di Majapahit.

PASURUAN, SETAJAMPENA.COM – Negarakertagama dalam Pupuh 38–49 karya Mpu Prapanca menyimpan catatan penting mengenai perjalanan sejarah kerajaan Singasari hingga berdirinya Majapahit. Rangkaian pupuh tersebut tidak sekadar menceritakan pergantian kekuasaan para raja, tetapi juga merekam silsilah keluarga kerajaan, hubungan antargenerasi, ekspansi wilayah, hingga perjalanan politik yang membentuk kekuasaan Majapahit pada masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk.

Kakawin yang juga dikenal dengan nama Desawarnana ini memperlihatkan bagaimana Mpu Prapanca menyusun narasi sejarah kerajaan melalui perpaduan catatan perjalanan, penghormatan kepada penguasa, pengetahuan keagamaan, dan penelusuran leluhur dinasti. Pupuh 38 menjadi titik penting peralihan cerita, dari perjalanan kenegaraan Hayam Wuruk menuju penelusuran silsilah raja-raja pendahulunya.

Dalam Pupuh 38, Mpu Prapanca menggambarkan keindahan Bureng, sebuah telaga dengan air jernih kebiru-biruan, bangunan candi di tengahnya, serta deretan rumah dan beragam bunga di tepian. Tempat tersebut digambarkan sebagai tujuan orang-orang yang mencari kesenangan dan menikmati keindahan alam.

Setelah melewati kawasan tersebut, rombongan bergerak menuju Singasari dan memasuki pesanggrahan. Di tempat inilah Mpu Prapanca mengunjungi seorang pendeta Buddha yang dikenal sebagai sarjana dan pengawas candi serta silsilah raja.

Pertemuan itu bukan sekadar kunjungan biasa. Mpu Prapanca menyampaikan maksud kedatangannya untuk mengetahui sejarah leluhur para raja yang telah dicandikan. Ia meminta agar kisah tersebut dimulai dari Bhatara Kagenengan, termasuk asal-usulnya sebagai putra Girinata.

Permintaan itu dijawab oleh sang pendeta dalam Pupuh 39. Ia mengawali penuturan dengan penghormatan kepada Siwa dan Girinata, sekaligus meminta agar kekurangan dalam penyampaian cerita tidak dijadikan alasan untuk mencela.

Dialog tersebut menjadi pengantar penting bagi pembaca untuk memahami bahwa bagian berikutnya dalam Nagarakretagama beralih dari perjalanan fisik sang raja menuju perjalanan sejarah dinasti.

Pupuh 40 mengawali kisah Wangsa Rajasa melalui tokoh Rangga Rajasa. Mpu Prapanca menggambarkannya sebagai pemimpin pemberani, bijaksana, dan memiliki kekuatan besar dalam menghadapi musuh.

Rangga Rajasa dikisahkan membangun kekuasaan di wilayah timur Gunung Kawi. Pusat pemerintahannya berada di Kutaraja. Ia menjalankan pemerintahan dengan menjaga keamanan negara, memberikan perlindungan kepada masyarakat, serta menindak pihak-pihak yang dianggap mengganggu ketertiban.

Peristiwa penting dalam pemerintahannya adalah peperangan melawan Raja Kediri, Kretajaya. Dalam kisah tersebut, Rangga Rajasa berhasil mengalahkan penguasa Kediri dan menyatukan wilayah Janggala serta Kediri di bawah satu kekuasaan.

Kemenangan tersebut menjadi fondasi lahirnya dinasti yang kemudian melahirkan sejumlah penguasa besar di Jawa. Setelah wafat, Rangga Rajasa disebut mendapatkan penghormatan melalui pendharmaan di Kagenengan sebagai Siwa dan di Usaha sebagai Buddha.

Pupuh 41 kemudian mencatat pergantian kekuasaan kepada Anusapati, putra Rangga Rajasa. Pemerintahannya digambarkan membawa ketenteraman. Setelah Anusapati wafat, kekuasaan beralih kepada Wisnuwardhana.
Wisnuwardhana selanjutnya mengangkat putranya, Kertanegara, sebagai raja. Perubahan nama pusat pemerintahan dari Kutaraja menjadi Singasari juga menjadi penanda perkembangan kekuasaan dinasti tersebut.

Pupuh 41 hingga 43 memberikan gambaran mengenai kebesaran Kertanegara. Mpu Prapanca mencatat berbagai tindakan politik dan militer yang memperluas pengaruh kerajaan.

Kertanegara menghadapi pemberontakan Cayaraja dan Mahisa Rangga. Ia juga mengirimkan utusan untuk menundukkan Melayu serta melancarkan ekspedisi ke Bali. Dalam uraian tersebut, sejumlah wilayah seperti Pahang, Melayu, Gurun, Bakulapura, Sunda, dan Madura disebut berada dalam jangkauan pengaruh kekuasaannya.

Namun, penggambaran Kertanegara tidak hanya berkaitan dengan peperangan. Mpu Prapanca juga menonjolkan sisi keagamaan dan intelektual sang raja.

Kertanegara digambarkan mendalami ajaran Buddha, filsafat, sastra, bahasa, serta berbagai pengetahuan keagamaan. Ia menjalankan praktik keagamaan dan tapa demi keselamatan negara. Penghormatan terhadap dirinya bahkan diwujudkan melalui penggambaran Siwa-Buddha dalam tradisi pendharmaan.

Gambaran tersebut memperlihatkan bagaimana kekuasaan politik dan kehidupan keagamaan saling berkaitan dalam tradisi kerajaan pada masa itu.

Pupuh 44 menjadi bagian penting yang mencatat keruntuhan kekuasaan Kertanegara akibat pemberontakan Jayakatwang, penguasa Kediri.

Mpu Prapanca menggambarkan Jayakatwang sebagai penguasa yang berkhianat dan berambisi merebut kekuasaan. Peristiwa tersebut mengakhiri pemerintahan Kertanegara dan membuka jalan bagi perubahan besar dalam sejarah politik Jawa.
Tokoh berikutnya yang muncul adalah Dyah Wijaya, menantu Kertanegara.

Dengan dukungan bangsa Tartar atau pasukan Mongol, Dyah Wijaya berhasil mengalahkan Jayakatwang.
Setelah kemenangan tersebut, Dyah Wijaya mendirikan pemerintahan baru di Majapahit. Pupuh 45 menyebutnya dengan gelar Sri Narapati Kretarajasa Jayawardana.

Pendirian Majapahit menjadi babak baru perjalanan Wangsa Rajasa. Dalam Pupuh 46, Mpu Prapanca mencatat empat putri Kertanegara yang menjadi permaisuri Kertarajasa, yakni Tribhuwana, Mahadewi, Prajnyaparamita Jayendra Dewi, dan Gayatri yang bergelar Rajapatni.

Pupuh 47 kemudian menjelaskan hubungan keluarga kerajaan melalui Dyah Lembu Tal, putra Narasingamurti. Tokoh ini disebut sebagai ayah Dyah Wijaya, sehingga hubungan kekerabatan tersebut memperlihatkan kesinambungan dinasti Singasari dengan penguasa pertama Majapahit.

Pupuh 47 dan 48 melanjutkan kisah pergantian kekuasaan kepada Jayanagara, putra Kertarajasa. Ia dinobatkan sebagai raja dan memerintah Wilwatikta, nama lain Majapahit.

Dalam masa pemerintahannya, Jayanagara menghadapi berbagai persoalan politik dan pemberontakan. Salah satu peristiwa yang dicatat adalah penumpasan Nambi di Lumajang. Mpu Prapanca juga menyebut penghancuran Pajarakan dalam rangkaian peristiwa tersebut.

Setelah Jayanagara wafat, kekuasaan beralih kepada Tribhuwana Wijayatunggadewi sebagaimana dicatat dalam Pupuh 49. Ia naik takhta dengan dukungan dan perintah ibundanya, Gayatri Rajapatni.

Dalam pemerintahan Tribhuwana, muncul nama Gajah Mada yang disebut menjalankan tugas sebagai menteri. Pupuh 49 juga mencatat penumpasan perlawanan di Sadeng serta serangan terhadap Keta.

Bagian ini memperlihatkan bahwa kesinambungan pemerintahan Majapahit tidak hanya bertumpu pada hubungan darah, tetapi juga pada kemampuan penguasa mengendalikan wilayah, menghadapi pemberontakan, dan mempertahankan stabilitas kerajaan.

Pada bagian akhir Pupuh 49, Mpu Prapanca menyebut penuturan tersebut berasal dari Dang Acarya Ratnamsah. Sang pendeta mengakhiri kisah dengan menegaskan keunggulan para penguasa yang diceritakan. Mpu Prapanca kemudian menyampaikan penghormatan dan meminta diri untuk kembali menghadap raja.

Rangkaian Pupuh 38–49 memberikan gambaran tentang cara Mpu Prapanca merekam sejarah kekuasaan. Ia tidak hanya mencatat siapa yang naik takhta dan siapa yang turun dari kekuasaan, tetapi juga menjelaskan hubungan keluarga, pendharmaan, kepercayaan, peperangan, serta perubahan pusat pemerintahan.

Meski demikian, Nagarakretagama merupakan karya kakawin abad ke-14 yang memuat pujian terhadap raja dan dinasti penguasa. Karena itu, keterangannya perlu dibaca secara kritis serta dibandingkan dengan prasasti dan sumber sejarah lainnya, terutama ketika membahas kronologi dan peristiwa politik.

Nilai penting karya tersebut justru terletak pada kemampuannya memperlihatkan bagaimana sebuah kerajaan membangun ingatan tentang asal-usul dan legitimasi kekuasaannya.

Dari Rangga Rajasa di Singasari, Kertanegara, Dyah Wijaya sebagai pendiri Majapahit, Jayanagara, hingga Tribhuwana Wijayatunggadewi, Mpu Prapanca menyusun satu rangkaian perjalanan dinasti yang menjadi bagian penting dalam memahami sejarah Jawa.
Pupuh 38–49 bukan sekadar daftar nama raja, melainkan rekaman tentang pergantian kekuasaan, hubungan antargenerasi, dan pembentukan identitas politik kerajaan yang kelak mencapai puncak kejayaan pada masa Majapahit.

Editor: Syafi’i

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *