Kakawin Negarakretagama karya Mpu Prapanca mencatat Hayam Wuruk, keluarga kerajaan, tata pemerintahan, dan kehidupan ibu kota Majapahit pada abad ke-14.
CATATAN SEJARAH, SETAJAMPENA.COM
– Kakawin Negarakretagama mengabadikan kehidupan Kerajaan Majapahit pada abad ke-14 melalui catatan pujangga istana Mpu Prapanca. Naskah yang diselesaikan pada bulan Aswina tahun Saka 1287 atau sekitar September–Oktober 1365 Masehi itu menggambarkan sosok Raja Hayam Wuruk, lingkungan keluarga kerajaan, tata pemerintahan, hingga susunan ibu kota Wilwatikta.
Mpu Prapanca dikenal sebagai nama samaran penulis yang dalam sejumlah kajian kesejarahan diidentifikasi sebagai Dang Acarya Nadendra. Ia disebut pernah menduduki jabatan penting dalam urusan agama Buddha di lingkungan istana Majapahit.
Karya tersebut menjadi salah satu sumber sejarah yang memberikan gambaran mengenai kehidupan politik, keagamaan, dan sosial Majapahit. Karena memuat perjalanan serta pengamatan terhadap lingkungan kerajaan, Negarakretagama juga kerap dipandang sebagai catatan perjalanan atau dokumentasi istana dari masa lampau.
Dalam bagian awal naskah, Prapanca menyampaikan pujian kepada Sri Nata Rajasanagara, nama yang merujuk kepada Hayam Wuruk. Raja digambarkan sebagai pemimpin yang melindungi rakyat, menjaga ketertiban, serta memiliki kedudukan penting di antara kerajaan-kerajaan pada masa itu.
Pupuh pertama juga memuat gambaran kelahiran sang raja pada tahun Saka 1256 atau sekitar 1334 Masehi. Peristiwa alam seperti gempa bumi, hujan abu, dan letusan gunung disebut sebagai pertanda keluhuran calon penguasa tersebut.
Penggambaran itu memperlihatkan cara pujangga istana menghubungkan kedudukan raja dengan simbol keagamaan dan kekuatan alam. Dalam naskah, Hayam Wuruk diposisikan sebagai pemimpin yang mampu mengayomi masyarakat serta menjaga kestabilan kerajaan.
Prapanca juga mencatat penghormatan terhadap Sri Rajapatni, nenek Hayam Wuruk, yang digambarkan menjalani kehidupan keagamaan dan kembali ke alam Buddha pada tahun Saka 1272 atau sekitar 1350 Masehi.
Pupuh kedua hingga ketujuh memberikan perhatian besar terhadap keluarga kerajaan. Naskah menyebut Sri Kertawardana sebagai ayah Hayam Wuruk dan menguraikan hubungan kekerabatan dengan sejumlah tokoh yang memerintah wilayah Daha, Jiwana, Wengker, Lasem, Pajang, serta daerah lainnya.
Prapanca menggambarkan para penguasa daerah tersebut sebagai bagian dari lingkungan politik Majapahit. Hubungan keluarga melalui perkawinan turut memperlihatkan bagaimana ikatan antarkerajaan dan antarpenguasa menjadi bagian dari struktur kekuasaan.
Selain hubungan kekerabatan, naskah juga menyampaikan gambaran tentang pengabdian para pejabat, kepatuhan terhadap raja, serta harapan agar pemerintahan menjaga kemakmuran rakyat.
Meski demikian, pujian terhadap raja dan keluarganya perlu dibaca sesuai konteks karya sastra istana. Negarakretagama tidak hanya menyampaikan catatan peristiwa, tetapi juga mengandung penghormatan dan pandangan penulis terhadap penguasa yang sedang memerintah.
Pupuh kedelapan hingga kedua belas menyajikan gambaran terperinci mengenai ibu kota kerajaan. Wilwatikta digambarkan memiliki tembok bata merah yang tinggi dan tebal, pintu-pintu gerbang, lapangan luas, balai pertemuan, serta bangunan yang digunakan untuk berbagai kepentingan pemerintahan.
Prapanca mencatat keberadaan balai Manguntur dan Witana sebagai bagian penting lingkungan istana. Kawasan tersebut menjadi tempat raja menerima para pembesar, pejabat, pendeta, dan utusan yang datang untuk menghadap.
Naskah juga menguraikan pembagian tempat tinggal berdasarkan kedudukan dan fungsi penghuninya. Para pejabat kerajaan, pemuka agama Buddha dan Siwa, bangsawan, serta keluarga penguasa daerah digambarkan menempati lingkungan tertentu di sekitar pusat pemerintahan.
Susunan tersebut memberikan petunjuk mengenai pembagian ruang dan fungsi dalam kehidupan istana Majapahit. Namun, gambaran dalam kakawin tetap perlu dibandingkan dengan sumber sejarah dan bukti arkeologis lain untuk memperoleh pemahaman yang lebih menyeluruh tentang kondisi ibu kota pada masa itu.
Salah satu tokoh penting yang disebut dalam pupuh kedua belas adalah Gajah Mada. Prapanca menggambarkannya sebagai patih Wilwatikta yang memiliki kecakapan dalam pemerintahan, keteguhan, kecerdasan, serta pengabdian kepada negara.
Naskah turut menyebut sejumlah pejabat tinggi, termasuk kelompok lima menteri utama yang dikenal sebagai Panca Wilwatikta. Mereka memiliki peran dalam urusan pemerintahan dan menjadi bagian dari lingkungan yang mendampingi raja.
Catatan mengenai pejabat, tempat pertemuan, dan tata lingkungan kerajaan memperlihatkan perhatian Prapanca terhadap struktur pemerintahan Majapahit. Melalui uraian tersebut, pembaca dapat melihat bagaimana kehidupan istana ditampilkan sebagai pusat pengambilan keputusan dan pengelolaan wilayah.
Kakawin Negarakretagama akhirnya menjadi dokumen sastra dan sejarah yang penting untuk memahami Majapahit. Pujian terhadap raja, uraian keluarga kerajaan, serta gambaran tata kota memberikan bahan kajian bagi peneliti mengenai kehidupan politik dan kebudayaan Nusantara pada abad ke-14.
Nilai penting naskah ini tidak hanya terletak pada kisah kejayaan kerajaan, tetapi juga pada detail yang direkam oleh penulisnya. Catatan Prapanca, wartawan di era kerajaan mojopahit menjadi pengingat bahwa sejarah dapat dipahami melalui karya sastra, selama pembaca tetap membedakan antara pujian, gambaran ideal, dan informasi yang perlu diuji dengan sumber lain.
Editor; Syafi’i
