Berita Pendidikan & Budaya

Mpu Prapanca Catat Perjalanan Hayam Wuruk Menuju Singasari

Mpu Prapanca mencatat perjalanan Raja Hayam Wuruk menuju Singasari dalam Negarakretagama Pupuh 31–38, termasuk persinggahan Pasuruan, Kagenengan, Kidal, dan Jajago.

CATATAN SEJARAH, SETAJAMPENA.COM
– Catatan Mpu Prapanca tentang perjalanan Raja Hayam Wuruk menuju wilayah Singasari menjadi salah satu bagian penting dalam Kakawin Desawarnana atau Negarakretagama, karya sastra abad ke-14 yang merekam kehidupan politik, keagamaan, dan sosial Kerajaan Majapahit. Melalui Pupuh 31 hingga Pupuh 38, Prapanca menggambarkan perjalanan raja beserta rombongan, persinggahan di sejumlah desa, kunjungan ke tempat suci, serta kondisi kompleks candi makam yang menjadi bagian dari penghormatan terhadap leluhur kerajaan.

Catatan tersebut tidak hanya merekam perjalanan seorang raja, tetapi juga menyajikan gambaran mengenai hubungan antara kekuasaan, kehidupan keagamaan, masyarakat, dan lanskap wilayah yang dilalui rombongan kerajaan. Sejumlah nama tempat yang disebutkan dalam kakawin itu juga menarik untuk ditelusuri dalam kajian sejarah dan geografi masa kini, termasuk kawasan Pasuruan dan Malang.

Dalam tradisi penulisan sejarah, Mpu Prapanca dikenal sebagai pujangga sekaligus pejabat keagamaan Buddha pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk. Ia menyelesaikan Negarakretagama pada 1365 Masehi, ketika Majapahit berada di bawah pemerintahan Hayam Wuruk dengan dukungan Mahapatih Gajah Mada.

Dari Kalayu, Rombongan Raja Melanjutkan Perjalanan
Pada Pupuh 31, Prapanca menceritakan perjalanan rombongan kerajaan setelah meninggalkan Keta. Jumlah pengiring bertambah ketika perjalanan berlanjut melewati sejumlah tempat, hingga rombongan tiba di Kalayu. Di tempat tersebut, Hayam Wuruk menghentikan perjalanan untuk melakukan penghormatan kepada leluhur yang dimakamkan di kompleks suci setempat.

Kalayu digambarkan sebagai desa perdikan yang berkaitan dengan komunitas keagamaan Buddha. Prapanca menyebut pelaksanaan upacara penyekaran bernama Memegat Sigi, yang berlangsung mengikuti tata cara tertentu. Rangkaian kegiatan itu mencakup jamuan, iringan para pejabat kerajaan, serta pertunjukan seni yang mengiringi acara.

Setelah upacara selesai, rombongan kembali menikmati berbagai kegiatan sebelum melanjutkan perjalanan menuju Kutugan, Kebon Agung, dan Kambangrawi. Di kawasan Kambangrawi, Prapanca menyebut keberadaan candi Buddha yang menjulang tinggi dan memiliki bentuk indah. Tempat tersebut dikaitkan dengan tanah anugerah raja kepada Tumenggung Nala.

Gambaran itu memperlihatkan bahwa perjalanan kerajaan tidak semata-mata berorientasi pada urusan pemerintahan. Kunjungan ke tempat suci, penghormatan terhadap leluhur, serta hubungan dengan pejabat daerah menjadi bagian dari aktivitas yang dicatat dalam kakawin tersebut.

Pada Pupuh 32 dan 33, perjalanan Hayam Wuruk berlanjut menuju Pajarakan. Raja disebut bermalam selama empat hari di tempat tersebut. Para menteri dan pendeta datang menghadap dengan membawa makanan serta persembahan, sementara raja memberikan anugerah sebagai balasan.

Dari Pajarakan, rombongan bergerak menuju asrama di kawasan hutan Sagara. Prapanca menggambarkan perjalanan melewati perbukitan dan sejumlah wilayah sebelum mencapai tempat pertapaan yang berada di tengah hutan. Lingkungan asrama itu digambarkan memiliki taman bertingkat, kolam pemandian, aneka tanaman, serta bangunan dengan ukiran dan tulisan.
Prapanca juga memberikan perhatian khusus terhadap kehidupan para pertapa.

Ia menggambarkan mereka sebagai kelompok yang menjalankan tata tertib keagamaan dan kehidupan sederhana. Ketika Hayam Wuruk meninggalkan asrama, suasana perpisahan digambarkan melalui personifikasi alam, seolah-olah pepohonan dan burung ikut bersedih.

Catatan tersebut memperlihatkan kemampuan Prapanca menggabungkan informasi perjalanan dengan penggambaran sastra. Ia tidak hanya menyebut tempat dan peristiwa, tetapi juga menyampaikan suasana, keindahan lingkungan, serta kesan yang ditimbulkan oleh interaksi antara raja dan komunitas keagamaan.

Pupuh 34 dan 35 membawa kisah perjalanan ke sejumlah tempat lain sebelum rombongan mencapai Pasuruan. Prapanca menyebut beberapa nama wilayah, kemudian mencatat bahwa rombongan menyimpang ke selatan menuju Kepanjangan, mengikuti jalan raya hingga kawasan Andoh Wawang, Kedung Peluk, dan Hambal.

Perjalanan itu kemudian berlanjut menuju Kota Singasari. Pada bagian yang sama, Prapanca menceritakan bahwa dirinya tidak selalu mengikuti rombongan utama. Ia tinggal di sebelah barat Pasuruan untuk mengunjungi Indarbaru, yang disebut berada di wilayah Desa Hujung.

Di tempat itu, Prapanca menemui pengawas asrama dan menanyakan persoalan tanah milik lembaga keagamaan. Ia kemudian diperlihatkan lempengan piagam yang memuat keterangan mengenai tanah, lembah, gunung, serta lahan yang berkaitan dengan kepentingan wihara.

Keterangan tersebut memiliki nilai penting karena memperlihatkan adanya pengaturan hak atas tanah bagi lembaga keagamaan pada masa Majapahit. Catatan tentang piagam juga menunjukkan bahwa Prapanca tidak hanya tertarik pada upacara kerajaan, tetapi turut memperhatikan administrasi dan dasar hukum kepemilikan tanah.

Meski demikian, identifikasi nama-nama tempat kuno dengan lokasi modern perlu dilakukan secara hati-hati. Kemiripan nama tidak otomatis membuktikan bahwa suatu desa atau kawasan masa kini merupakan lokasi yang sama dengan tempat yang disebut dalam kakawin. Penelusuran lebih lanjut memerlukan perbandingan naskah, prasasti, penelitian arkeologi, dan kajian geografis.

Kagenengan, Kidal, dan Jajago dalam Catatan Prapanca
Pada Pupuh 36, Hayam Wuruk disebut berangkat menuju Kagenengan untuk melakukan penghormatan di makam Bhatara. Rombongan membawa perlengkapan upacara, makanan, bunga, serta berbagai barang persembahan. Kedatangan raja disambut masyarakat, pendeta Siwa-Buddha, dan para bangsawan.

Pupuh 37 memberikan gambaran lebih rinci mengenai kompleks candi makam tersebut. Prapanca menyebut bangunan dengan pintu masuk besar, halaman luas, deretan rumah, beragam tanaman, serta menara tinggi yang di dalamnya terdapat arca Siwa.

Ia juga mencatat kondisi sejumlah bagian kompleks yang tidak lagi terawat, dengan halaman berlumut dan tanaman yang tampak merana.
Penggambaran itu menjadi bagian menarik dari karya Prapanca. Di tengah pujian terhadap kebesaran Hayam Wuruk, ia menghadirkan gambaran bangunan suci yang membutuhkan perhatian dan pemeliharaan. Raja kemudian digambarkan sebagai sosok yang diharapkan mampu memperbaiki keadaan.

Setelah mengunjungi Kagenengan, perjalanan berlanjut menuju Candi Kidal dan Jajago, yang umumnya diidentifikasi dengan Candi Jago di kawasan Tumpang, Kabupaten Malang. Kedua tempat tersebut memperlihatkan pentingnya kompleks keagamaan dan penghormatan kepada tokoh-tokoh yang telah meninggal dalam kehidupan kerajaan.

Pada Pupuh 38, Prapanca juga menggambarkan keindahan Bureng, yang disebut memiliki telaga berair jernih, candi di tengah kawasan perairan, serta taman dengan aneka bunga. Setelah melewati kawasan tersebut, rombongan memasuki Singasari.

Di Singasari, Prapanca mengunjungi seorang pendeta Buddha yang dikenal sebagai sarjana dan pengawas candi serta silsilah raja. Ia bermaksud memperoleh keterangan mengenai sejarah leluhur para penguasa yang dihormati melalui bangunan suci.

Percakapan itu menjadi penghubung menuju kisah sejarah kerajaan yang lebih tua. Prapanca meminta penjelasan mengenai Bhatara Kagenengan dan asal-usul tokoh yang dikaitkan dengan Girinata.

Bagian tersebut memperlihatkan bahwa pencatatan sejarah dalam Negarakretagama tidak hanya mengandalkan perjalanan langsung, tetapi juga melibatkan penuturan dan pengetahuan para pemuka keagamaan.

Karya Prapanca karena itu dapat dibaca dari beberapa sudut sekaligus: sebagai puisi istana, catatan perjalanan, sumber sejarah politik, dan dokumentasi kehidupan keagamaan serta kebudayaan.

Jejak perjalanan Hayam Wuruk dari berbagai persinggahan menuju Singasari menunjukkan bagaimana wilayah, tempat suci, pejabat, dan masyarakat terhubung dalam kehidupan Majapahit. Sementara itu, perhatian Prapanca terhadap bangunan, lingkungan, piagam tanah, dan silsilah menegaskan nilai penting Negarakretagama bagi penelitian sejarah Nusantara.

Catatan sejarah: Nama tempat dalam kakawin, termasuk yang dikaitkan dengan Pasuruan dan Malang, perlu ditelaah melalui penelitian lintas sumber sebelum ditetapkan sebagai lokasi modern tertentu. Dengan pendekatan tersebut, catatan Mpu Prapanca dapat menjadi pintu masuk untuk memahami masa lalu secara kritis, bukan sekadar menyamakan nama-nama kuno dengan wilayah masa kini.

Editor: Syafi’i

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *