SETAJAMPENA.com, Sidoarjo – Gemerlap Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, mulai terasa. Deretan tenda bazar berdiri, pelaku usaha bersiap memburu rezeki dari ribuan muktamirin yang akan datang.
Namun, di balik geliat ekonomi itu, ada pedagang kecil yang justru harus menelan pil pahit.
Ali Sutopo, bukan nama sebenarnya, pedagang pentol keliling yang selama ini mencari nafkah di kawasan Tambakberas, terpaksa menghentikan aktivitasnya. Bukan karena kehabisan pembeli, tetapi karena tidak mampu membayar sewa tenda untuk tetap bisa berjualan selama Muktamar NU ke-35 berlangsung.
Bagi pedagang yang sehari hanya mengantongi keuntungan Rp40 ribu hingga Rp50 ribu, biaya sewa tenda jutaan rupiah bukanlah peluang, melainkan tembok yang sulit ditembus.
“Tidak boleh jualan kalau tidak sewa tenda,” ujar Ali kepada awak media, Sabtu (22/8/2026). Ia meminta identitasnya disamarkan karena khawatir persoalan tersebut berdampak pada aktivitasnya selama ini.

Ali mengaku, biaya sewa tenda yang ditawarkan mulai sekitar Rp2,5 juta hingga puluhan bahkan ratusan juta rupiah, tergantung lokasi dan fasilitas.
“Bagaimana mau sewa tenda? Hasil jualan setiap hari cuma Rp40 ribu sampai Rp50 ribu,” keluhnya.
Kini, lebih dari dua pekan Ali harus libur berjualan. Tidak ada pemasukan membuat kebutuhan sehari-hari semakin berat. Untuk makan, ia mengaku terpaksa berutang ke sana-kemari.
Bahkan, di tengah kondisi tersebut, Ali sedang mengajukan pinjaman kepada salah satu koperasi di Kota Santri Jombang.
“Kami tidak berani keliling karena biasanya jualan di situ,” bebernya.
Kisah Ali menjadi sisi lain dari geliat ekonomi menjelang Muktamar NU ke-35. Di satu sisi, perhelatan besar ini membuka peluang bagi pelaku usaha, hotel, pedagang, jasa transportasi, hingga berbagai sektor ekonomi lainnya. (Catatan: penambahan tanda koma untuk memperbaiki struktur perincian tanpa mengubah isi)
Tetapi di sisi lain, pedagang kecil yang selama bertahun-tahun menggantungkan hidup dari keramaian di sekitar pesantren harus kehilangan ruang untuk mencari nafkah.
Bagi Ali, Muktamar bukan sekadar soal tenda bazar, sewa tempat, atau besarnya perputaran uang. Ada kebutuhan keluarga yang tetap berjalan ketika gerobak pentolnya harus berhenti.
Di tengah megahnya tenda-tenda bazar dan semarak penyambutan Muktamar NU ke-35, kisah Ali menjadi pengingat: jangan sampai pesta besar mendatangkan berkah bagi sebagian orang, tetapi membuat pedagang kecil kehilangan kesempatan untuk sekadar mencari sesuap nasi. (li)
Editor: Audi/Red
